Advertisement
GazanaPublika.com, Cianjur — Di tengah gemuruh tantangan dunia pertanian modern, sekelompok warga tani dan pelaku budaya Cianjur berkumpul dalam suasana hangat dan penuh makna dalam kegiatan bertajuk ‘Ngopi Tani’ — singkatan dari Ngobrol Jeung Pikiran Warga Tani, sebuah silaturahmi bernuansa adat dan agrikultur yang digelar di Kedai Kebon Djati, Villa Pesona Cianjur, Minggu pagi.
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara petani dari delapan kecamatan di Cianjur—mulai dari Cianjur Kota, Sukaluyu, Haurwangi, Cikalong, Cilaku, Sindangbarang, Agrabinta, hingga Pagelaran—untuk saling berbagi cerita, gagasan, dan harapan tentang masa depan pertanian lokal. Sekitar 30 peserta hadir dalam suasana yang dibuka dengan tembang buhun mamaos Cianjuran, membangun suasana yang sakral dan reflektif.
Advertisement
Acara ini diselenggarakan oleh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sebagai bagian dari implementasi Cianjuran IntegraTED Farming—sebuah sistem pertanian berkelanjutan yang menggabungkan unsur kearifan lokal, seni tradisional, serta inovasi pertanian ramah lingkungan.
Dalam sesi diskusi, berbagai keluh kesah petani mengemuka: mulai dari kelangkaan dan mahalnya benih unggulan, minimnya alat pascapanen, hingga ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia yang dirasa kurang produktif. Sebagai tanggapan, para narasumber memberikan pembekalan dan motivasi seputar pentingnya kembali pada akar budaya pertanian tradisional, seperti padi huma (gogo) dan sistem tumpang sari berbasis organik, yang terbukti lebih tahan krisis dan ramah lingkungan.
Menurut sesepuh Padepokan, Tedi Subarkah Kartaatmadja, keberhasilan program ketahanan pangan hanya bisa dicapai melalui sinergi berbagai unsur masyarakat:
“Sinergitas dan kreativitas berbagai komponen dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah pertanian sangat diperlukan, sebab majunya program ketahanan pangan adalah dengan terwujudnya pembangunan sistem pertanian yang masif, cerdas, dan berkelanjutan—dan tentunya harus terintegrasi,” ujar Tedi, Villa Pesona Cianjur, Minggu (3/8/2025).
Ia juga menegaskan bahwa Cianjur, yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras unggulan Jawa Barat, perlu menunjukkan keseriusan dalam membenahi sistem pertanian, bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam keberpihakan terhadap nasib warganya.
Meski banyak tantangan, warga Padepokan tetap setia menjalani kehidupan sebagai petani, mengolah lahan dengan semangat mandiri, kreatif, dan selaras dengan nilai-nilai adat leluhur. Dalam kegiatan ini, mereka juga mendapat dukungan nyata berupa pembagian bibit unggul seperti padi gogo, kacang ungu khas padepokan, kacang hijau, pare hutan, cabe tanjung, hingga suweg dan lampeni.
Kegiatan Ngopi Tani ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Direktur Perbenihan dan Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Dr. Stepi Anriani, selaku Direktur Eksekutif INSS, Persaudaraan Tani Huma Cianjur, dan komunitas Coklat Kita Cianjur.
Di akhir acara, peserta berharap Ngopi Tani bisa digelar secara bergilir (roadshow) ke berbagai wilayah basis pertanian tradisional di Cianjur, dengan fokus pada pelatihan pembuatan pupuk organik lokal, pemuliaan benih, dan penerapan sistem tanam berbasis budaya Sunda.
Kegiatan ini bukan hanya pertemuan biasa, melainkan sebuah gerakan sunyi yang menyuarakan harapan: bahwa masa depan pertanian tak harus tunduk pada industri besar, tapi bisa tumbuh dari semangat gotong royong, akar budaya, dan cinta tanah sendiri.
Advertisement
