Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Menjelang Aksi Besar, Gelombang Dukungan untuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu Terus Mengalir

Menjelang Aksi Besar, Gelombang Dukungan untuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu Terus Mengalir

Daerah Rabu, 13 Agustus 2025 6:18 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Pati, Jateng – Alun-alun Kabupaten Pati kini berubah menjadi pusat pertemuan dan solidaritas warga dari berbagai penjuru. Sejak pagi hingga larut malam, tumpukan kardus air mineral, hasil bumi, dan bantuan logistik lainnya kian menggunung di posko Aliansi Masyarakat Pati Bersatu. Semua dukungan itu mengarah pada satu tujuan: aksi besar-besaran pada Rabu (13/8/2025) yang disebut-sebut bisa menghadirkan hingga seratus ribu orang.

Meskipun Bupati Pati, Sudewo, sudah membatalkan rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen, amarah warga belum juga surut. Bagi mereka, kebijakan tersebut hanyalah satu dari serangkaian keputusan yang dinilai merugikan rakyat.

Advertisement

Koordinator Aliansi, Teguh Istyanto, mengaku pihaknya tidak bisa membendung semangat warga yang ingin turun ke jalan. “Masyarakat sudah kecewa terlalu dalam. Ada masalah lima hari sekolah, penggabungan sekolah yang membuat banyak guru honorer kehilangan pekerjaan, hingga PHK ratusan karyawan RSUD RAA Soewondo tanpa pesangon. Semua itu menumpuk jadi kekecewaan,” ujarnya, Selasa (12/8/2025).

Donasi dari Air Mineral hingga Pisang Gunungsari

Di sekitar posko, suasana mirip pasar darurat yang penuh logistik. Kardus-kardus air mineral ditumpuk rapi, siap disalurkan ke titik-titik strategis di sekitar Alun-alun Pati. Beberapa warga terlihat sibuk memasang tenda darurat yang nantinya akan berfungsi sebagai dapur umum dan posko evakuasi.

BACA JUGA:  Gebyar Kemerdekaan ke-81, Maestro Wayang Golek Cianjur R. Endang Taryana Kembali Dikenang

Tak hanya logistik standar, dukungan juga datang dalam bentuk yang unik. Senin sore lalu, rombongan petani dari Desa Gunungsari tiba dengan tiga pikap berisi sekitar 100 tandan pisang. “Ini bentuk solidaritas kami. Pisang ini hasil bumi kami sendiri, semoga bisa menjadi tenaga bagi mereka yang berjuang menyampaikan aspirasi,” kata Waharto, salah satu petani.
Duka Mantan Pegawai RSUD

Di sisi lain, kisah yang lebih personal datang dari para mantan pegawai RSUD RAA Soewondo. Ruha, yang telah mengabdi selama 20 tahun, menceritakan bagaimana dirinya di-PHK pada 1 Juli lalu tanpa pesangon. Ia mengaku semakin kecewa ketika mendengar rumah sakit justru membuka formasi baru untuk ratusan tenaga honorer BLUD. “Kami minta pekerjaan kami dikembalikan, atau turunkan Bupati,” tegasnya.

Roni, rekan Ruha, mengaku kebingungan menghadapi situasi ini. “Yang di-PHK 220 orang, tapi yang direkrut malah 330 orang. Rasanya seperti dipinggirkan,” ujarnya dengan nada getir.

Tekanan dari Partai hingga Tuduhan Politik
Polemik ini sempat menarik perhatian Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden RI, Prabowo Subianto. Melalui Ketua DPD Gerindra Jateng, Sudaryono, Prabowo disebut telah menegur langsung Bupati Sudewo dan memintanya membatalkan kenaikan PBB. Permintaan itu langsung dilaksanakan Sudewo.

BACA JUGA:  Wacana Perubahan Nama Jawa Barat Dinilai Berpotensi Mengotakkan Identitas Budaya Sunda

Namun, meski kebijakan itu dibatalkan dan beberapa tuntutan sudah dituruti, Sudewo menduga ada pihak yang menunggangi aksi ini untuk kepentingan politik. “Kalau tuntutan sudah dipenuhi tapi aksi masih jalan, berarti ini tidak murni,” ujarnya, Jumat (8/8) lalu.

Menunggu Hari H

Menjelang aksi yang disebut akan menjadi salah satu yang terbesar di Pati, suasana kota terasa tegang namun penuh semangat. Di posko, relawan terus memilah logistik, mengatur rute distribusi air mineral, dan memastikan dapur umum siap melayani ribuan orang.

Di pinggir jalan, obrolan warga berkisar pada satu hal: besok akan menjadi hari penting bagi Pati. Bagi sebagian, ini adalah unjuk rasa atas kebijakan yang melukai rakyat. Bagi yang lain, ini adalah simbol bahwa suara warga tak bisa diabaikan begitu saja.
Rabu nanti, mata seluruh Pati—bahkan mungkin seluruh Jawa Tengah—akan tertuju pada alun-alun kota kecil ini.

Advertisement

Aksi
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Daerah

Bau Busuk Tercium di Stasiun LRT Pancoran, Polisi Selidiki Dugaan Penemuan Jenazah

Daerah

Gempa M 4,3 Guncang Cianjur, Getarannya Terasa hingga Jakarta

Daerah

Stasiun Karet Resmi Ditutup, Penumpang KRL Mulai Dialihkan ke BNI City

Daerah

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

BERITA TERBARU

Gerakan 9 Bersama AMPP Gelar Aksi, Soroti Dugaan Buruknya Kualitas Jalan Program Bang Andra di Lebak Selatan

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.