Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Dari Kritik ke Aksi Hukum: Jejak A. Tarmizi dalam Kontrol Kebijakan

Dari Kritik ke Aksi Hukum: Jejak A. Tarmizi dalam Kontrol Kebijakan

Daerah Jumat, 10 April 2026 4:48 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com —  Di tengah meningkatnya sorotan masyarakat terhadap transparansi pemerintahan dan akuntabilitas kebijakan publik, muncul figur-figur dari masyarakat sipil yang mengambil posisi strategis sebagai pengawas jalannya kekuasaan. Salah satu nama yang kini mulai mencuat dalam ruang publik adalah A. Tarmizi, Ketua Umum Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang aktif dalam pengawasan kebijakan, advokasi hukum, dan pendampingan masyarakat. Keberadaannya juga muncul dalam sejumlah laporan publik, termasuk isu pertanahan dan dugaan penyimpangan kebijakan di daerah. (Dobrak – Mendobrak Aktual dan Fakta)

Kehadiran A. Tarmizi tidak dapat dibaca sekadar sebagai kemunculan seorang aktivis biasa. Ia merepresentasikan wajah baru kontrol sosial di era ketika kepercayaan publik terhadap institusi formal tengah mengalami ujian serius. Dalam konteks ini, peran masyarakat sipil bukan lagi pelengkap demokrasi, melainkan salah satu pilar penting yang menjaga agar kebijakan negara tetap berada pada koridor kepentingan rakyat.

Advertisement

Aktivisme Berbasis Pengawasan Kebijakan

Sebagai pimpinan lembaga pemantau, A. Tarmizi memosisikan organisasinya sebagai watchdog independen terhadap kebijakan pemerintah. Peran ini sangat penting, terutama ketika publik sering kali dihadapkan pada kebijakan yang minim transparansi atau sulit diakses penjelasan substansinya.

Pendekatan yang dibangun terlihat tidak berhenti pada kritik verbal. Justru yang menonjol adalah upaya membawa persoalan ke level yang lebih sistematis: investigasi dokumen, kajian aspek hukum, hingga penyusunan laporan kepada aparat penegak hukum. Dalam salah satu kasus pertanahan di kawasan Puncak Guha, misalnya, namanya muncul sebagai pihak yang menerima pengaduan warga dan melakukan kajian legal atas status lahan yang disengketakan. (Dobrak – Mendobrak Aktual dan Fakta)

BACA JUGA:  Gebyar Kemerdekaan ke-81, Maestro Wayang Golek Cianjur R. Endang Taryana Kembali Dikenang

Di titik inilah A. Tarmizi tampil sebagai figur yang mencoba menjembatani keresahan masyarakat dengan mekanisme hukum formal.

Gaya Kepemimpinan yang Kritis dan Konfrontatif

Salah satu karakter yang membuat sosok ini menonjol adalah gaya komunikasinya yang tegas, langsung, dan tidak berputar-putar. Dalam isu-isu sensitif seperti pengelolaan anggaran daerah, konflik aset, hingga dugaan penyalahgunaan kewenangan, ia cenderung mengambil posisi yang frontal.

Gaya seperti ini tentu menghadirkan dua sisi. Di satu sisi, sikap tegas memberikan sinyal kuat bahwa masyarakat sipil masih memiliki keberanian untuk berbicara di hadapan kekuasaan. Di sisi lain, pendekatan yang konfrontatif sering kali memunculkan resistensi, bahkan tudingan bahwa isu yang dibawa memiliki motif politis.

Namun justru di sinilah letak dinamika demokrasi. Kritik yang keras bukanlah ancaman bagi pemerintahan yang sehat, melainkan bagian dari mekanisme check and balance yang harus terus hidup.

Simbol Krisis Kepercayaan Publik

Menguatnya peran figur seperti A. Tarmizi sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar: adanya krisis kepercayaan publik terhadap mekanisme pengawasan formal.

Ketika masyarakat merasa proses birokrasi lambat, penegakan hukum tidak selalu responsif, atau kebijakan dianggap tidak berpihak, maka ruang bagi aktor-aktor masyarakat sipil akan semakin besar.
Dengan kata lain, kemunculan tokoh seperti dirinya bukan semata soal individu, tetapi juga cerminan kebutuhan sosial akan pengawasan alternatif.

BACA JUGA:  Furqan AMC Bakal maju di Dapil XI DPR RI 2029 Nanti

Dalam konteks demokrasi modern, peran semacam ini justru penting untuk mendorong budaya akuntabilitas. Negara tidak bisa bekerja sendiri. Kontrol dari masyarakat sipil menjadi energi korektif yang menjaga agar kekuasaan tidak bergerak tanpa pengawasan.

Tantangan dan Kontroversi

Tentu, bergerak di wilayah sensitif seperti kebijakan publik dan anggaran bukan perkara sederhana. Tantangan terbesar adalah menjaga objektivitas dan validitas data.

Kritik yang kuat harus dibangun di atas fakta yang kokoh. Tanpa itu, advokasi berisiko berubah menjadi opini yang mudah dipatahkan.

Selain itu, figur seperti A. Tarmizi juga harus menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh pengawasan tersebut. Resistensi, serangan balik opini, hingga delegitimasi personal merupakan risiko yang hampir selalu menyertai peran semacam ini.

Namun justru tekanan itu memperjelas posisinya sebagai aktor yang berada di garis depan dinamika kontrol kebijakan.

Kesimpulan

A. Tarmizi merepresentasikan wajah baru aktivisme kebijakan publik: figur yang tidak hanya bersuara, tetapi berupaya mengubah kritik menjadi langkah hukum dan tekanan sistemik.

Di tengah kompleksitas tata kelola pemerintahan dan menurunnya kepercayaan publik, kehadiran tokoh seperti dirinya menjadi bagian penting dari ekosistem demokrasi.

Ia hadir bukan sekadar untuk mengkritik, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Daerah

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Daerah

Student Care Vocation Padukan Budaya Tradisional dan Literasi Digital untuk Generasi Muda

Daerah

Tiga Siswa SMAN 22 Garut Terpilih Jadi Anggota Pasbara Upacara Hari Pramuka Tingkat Kabupaten

Daerah

PSI Garut Gelar Cukur Rambut Gratis, Kolaborasi dengan Seniman Pangkas ASGAR Indonesia

BERITA TERBARU

Jembatan Gantung di Pangandaran Ambruk Usai Diresmikan, Puluhan Orang Terjatuh

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.