Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Nama Pahlavi Muncul Dibalik Huru Hara Teheran

Nama Pahlavi Muncul Dibalik Huru Hara Teheran

Internasional Sabtu, 10 Januari 2026 21:53 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com — Tidak ada yang lebih menakutkan bagi sebuah rezim selain saat rakyatnya mulai berbicara dengan simbol, bukan lagi tuntutan teknis. Di Iran, pada malam Kamis itu, jalanan tidak sekadar dipenuhi teriakan kemarahan akibat ekonomi yang terpuruk, tetapi oleh gema nostalgia politik yang selama puluhan tahun dianggap tabu. Seruan ‘Javid Shah’ kembali terdengar, bukan sebagai program pemerintahan, melainkan sebagai isyarat bahwa Republik Islam Iran tengah kehabisan narasi untuk menjelaskan masa depannya sendiri.

Dalam pusaran itulah nama Reza Pahlavi muncul kembali ke permukaan. Bukan sebagai raja yang siap naik takhta, melainkan sebagai simbol yang mengisi kekosongan politik. Hampir setengah abad setelah Revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki dan memutus garis sejarah kerajaan yang telah bertahan lebih dari seribu tahun, nama keluarga Pahlavi—yang dahulu dilenyapkan dari ruang publik—kini kembali dipanggil oleh massa yang frustrasi.

Advertisement

Reza Pahlavi baru berusia 16 tahun ketika ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, tumbang dari kekuasaan setelah memerintah selama empat dekade. Ia tumbuh dalam pengasingan, jauh dari Iran yang berubah menjadi republik teokratis dengan Pemimpin Tertinggi sebagai poros kekuasaan mutlak. Selama bertahun-tahun, dukungan terhadap monarki bukan hanya tidak populer, tetapi merupakan pelanggaran pidana. Monarki dilabeli sebagai simbol tirani masa lalu, sementara republik dipromosikan sebagai hasil kemenangan rakyat.

Namun waktu mengubah persepsi. Generasi yang menggulingkan Shah menua, sementara generasi baru tumbuh dalam sistem yang semakin tertutup, represif, dan gagal memenuhi janji kesejahteraan. Ketika protes ekonomi meletus di Pasar Besar Teheran dan menyebar ke berbagai kota, tuntutan yang semula soal harga dan pengangguran dengan cepat bermetamorfosis menjadi penolakan total terhadap rezim. Dalam situasi itulah, Pahlavi memposisikan dirinya—bukan sebagai pewaris takhta, tetapi sebagai figur transisi.

BACA JUGA:  Arab Saudi dan Kuwait Dilaporkan Lancarkan Serangan Rahasia ke Irak, Targetkan Milisi Pro-Iran

“Ini adalah pertempuran terakhir. Pahlavi akan kembali!” menjadi salah satu teriakan yang mencolok. Bukan karena rakyat tiba-tiba sepakat ingin kembali ke monarki, melainkan karena simbol lama terasa lebih jujur dibanding masa depan yang tak kunjung ditawarkan oleh Republik Islam.

Para analis melihat fenomena ini bukan sebagai kebangkitan monarki, tetapi sebagai indikator kebuntuan struktural. Republik Islam selama beberapa dekade berhasil melumpuhkan oposisi internal: memenjarakan kritikus, membatasi kekuasaan presiden terpilih, dan menjadikan Pemimpin Tertinggi sebagai penjaga mutlak sistem. Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya memimpin, tetapi juga mendefinisikan batas politik yang boleh dan tidak boleh ada.

Ironisnya, penindasan internal justru memperkuat oposisi eksternal. Diaspora Iran yang besar, tersebar di Eropa dan Amerika Utara, menjadi ruang alternatif bagi perlawanan politik. Dari ruang inilah Pahlavi bangkit kembali, terutama setelah insiden tahun 2020 ketika Iran secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat komersial. Peristiwa itu menjadi titik temu kemarahan diaspora dan melahirkan dewan oposisi yang sempat menempatkan Pahlavi sebagai figur sentral, meski akhirnya bubar akibat konflik internal.

Sejak saat itu, Pahlavi tetap menjadi wajah oposisi paling dikenal secara internasional. Dukungan terbuka dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memperdalam kontroversi. Aliansi ini memecah opini publik Iran, terutama setelah serangan Israel menghantam sejumlah wilayah Iran dalam perang singkat kedua negara. Bagi sebagian warga Iran, kedekatan tersebut menimbulkan kecurigaan; bagi yang lain, itu dianggap sebagai peluang tekanan eksternal terhadap rezim.

Harapan akan perubahan juga dipengaruhi oleh dinamika global. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Presiden AS Donald Trump, misalnya, menyulut spekulasi bahwa rezim-rezim yang selama ini dianggap kebal bisa runtuh secara tiba-tiba. Di media sosial, simbolisme itu muncul dalam bentuk aneh: seorang demonstran mengubah nama jalan menjadi ‘Jalan Trump’. Namun para analis menilai ekspektasi semacam itu berlebihan. Trump dikenal pragmatis dan enggan memberi legitimasi pada figur oposisi sebelum mereka membuktikan daya menang nyata.

BACA JUGA:  Langkah Baru Menuju Perdamaian: AS Tawarkan Proposal Konsesi Finansial dan Penghentian Militer kepada Iran

Pahlavi sendiri belum menawarkan peta jalan yang konkret. Ia menyatakan kesediaannya memimpin Iran dalam masa transisi jika rezim tumbang, tetapi detail tentang siapa yang akan mengisi pemerintahan sementara, bagaimana majelis transisi dibentuk, dan mekanisme legitimasi politik masih kabur. Para pengkritiknya menilai kurangnya pengalaman politik praktis dapat menjadi titik lemahnya.

Di sinilah paradoksnya. Dukungan terhadap Pahlavi tidak lahir dari kehadirannya di tengah masyarakat Iran, melainkan dari keputusasaan kolektif. Ia menjadi wadah proyeksi kerinduan akan stabilitas, bukan karena masa lalu monarki dianggap sempurna, tetapi karena masa kini republik terasa buntu.

Pahlavi memahami kekuatan nostalgia itu. Ia berbicara tentang ingatan kolektif generasi tua yang merayakan kelahirannya sebagai euforia nasional. Kini, katanya, generasi muda memanggilnya ‘ayah’. Sebuah pengakuan yang lebih bersifat emosional daripada politis, namun justru itulah yang membuatnya relevan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yang lebih besar dari sosok Pahlavi itu sendiri. Ketika sebuah negara tidak lagi mampu menjanjikan masa depan yang masuk akal, masa lalu—betapapun problematisnya—akan kembali dipanggil. Bukan untuk diulang, tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa harapan hanya akan melahirkan simbol-simbol perlawanan baru.

Di Iran hari ini, nama Pahlavi bukan jawaban. Ia adalah pertanyaan yang dilontarkan rakyat kepada Republik Islam: jika bukan kalian, lalu siapa? (Sumber: Reuters.com)
—

Advertisement

Israel Konflik Politik
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Berita Utama

Harga Minyak Dunia Tembus $100 per Barel Akibat Eskalasi Konflik di Laut Merah dan Selat Hormuz

Internasional

Iran Klaim Hantam Fasilitas Militer AS di Yordania dan Kuwait Lewat Serangan Rudal dan Drone

Berita Utama

Serangan Rudal dan Drone Iran di Yordania, 2 Tentara AS Tewas, 1 Hilang

Internasional

Tuai Kecaman, Trump Ancam Terapkan Tarif Kargo Selat Hormuz

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.