Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata yang berlaku di Lebanon, seraya memastikan operasi militer terhadap Hezbollah akan terus dilanjutkan dengan kekuatan penuh. Pernyataan keras itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan internasional dan upaya diplomatik yang tengah dirintis Amerika Serikat untuk meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Netanyahu menyebut serangan militer Israel tidak akan dihentikan sampai keamanan wilayah utara Israel benar-benar dipulihkan. “Tidak ada gencatan senjata di Lebanon,” tegasnya dalam pernyataan resmi, beberapa saat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta agar pendekatan Israel terhadap Lebanon dilakukan dengan lebih “tenang” dan tidak memperkeruh situasi.
Advertisement
Di tengah ketegangan tersebut, Netanyahu juga mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah diinstruksikan untuk segera membuka negosiasi langsung dengan Lebanon. Pembicaraan itu, menurutnya, akan berfokus pada perlucutan senjata Hezbollah serta pembentukan hubungan damai dengan Beirut.
Namun, pemerintah Lebanon memberikan respons tegas dengan menekankan bahwa gencatan senjata harus terlebih dahulu disepakati sebelum pembicaraan apa pun dimulai. Sikap ini memperlihatkan masih lebarnya jarak diplomatik antara kedua pihak di tengah konflik yang terus memakan korban sipil.
Dalam 24 jam pertama setelah pengumuman gencatan senjata perang Iran pada Selasa malam, serangan udara Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan lebih dari 200 hingga 300 orang, dengan sejumlah laporan menyebut angka korban terus bertambah. Pengeboman tersebut disebut melibatkan penggunaan amunisi berat di kawasan padat penduduk, memicu kecaman keras dari Komite Internasional Palang Merah dan berbagai organisasi kemanusiaan dunia.
Serangan itu juga dinilai mengancam keberlangsungan proses diplomatik yang lebih luas di kawasan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut negosiasi menjadi tidak bermakna selama Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon. Pernyataan tersebut menempatkan pembicaraan Amerika Serikat–Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Sabtu dalam posisi yang semakin tidak pasti.
Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon. Sebelumnya, Teheran juga mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi serangan Israel, meski jalur strategis itu sebelumnya disepakati untuk dibuka selama dua pekan masa gencatan senjata.
Di sisi lain, laporan diplomatik menyebut Pakistan berperan dalam menahan Iran agar tidak memberikan respons militer yang lebih keras. Langkah itu disebut dilakukan demi menjaga peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas di kawasan, sekaligus mencegah konflik regional berubah menjadi perang terbuka yang lebih besar.
Konflik yang terus membara di Lebanon kini menjadi ujian serius bagi upaya perdamaian Timur Tengah. Di satu sisi, jalur negosiasi mulai dibuka, namun di sisi lain suara ledakan dan jatuhnya korban sipil terus memperlihatkan bahwa perdamaian masih jauh dari kenyataan.
Advertisement
