Advertisement
GazanaPublika.com – Kebakaran besar yang melanda wilayah Los Angeles, Amerika Serikat, belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Hingga Minggu (11/1/2025) pukul 17.00 waktu setempat, jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai 24 orang, dengan sekitar 9.000 bangunan hancur atau rusak akibat amukan api.
Kendati telah dilakukan berbagai upaya untuk memadamkan kebakaran, tantangan besar dihadapi oleh tim pemadam kebakaran, mulai dari kurangnya pasokan air hingga kondisi cuaca yang memperburuk situasi. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, tetapi sejumlah ahli telah mengemukakan beberapa faktor yang menjadi pemicu bencana ini.
Advertisement
Awal Mula dan Penyebaran Api
Kebakaran diketahui mulai terjadi pada Selasa (7/1/2025) dan dengan cepat meluas dalam hitungan menit. Cuaca kering ekstrem dan hembusan Angin Santa Ana yang berkecepatan hingga 160 km/jam mempercepat penyebaran api ke berbagai wilayah.
Angin Santa Ana, yang dikenal sebagai angin gurun kering, berasal dari tekanan udara tinggi di Great Basin, yang mencakup Nevada, Oregon, Idaho, dan Utah. Angin ini bergerak ke barat daya, melewati pegunungan Sierra, yang membuat udara semakin kering dan mempercepat laju kebakaran. Vegetasi yang telah mengering karena kelembapan rendah menjadi bahan bakar ideal bagi api yang berkobar.
Perubahan Iklim Memperburuk Kondisi
Para ahli juga menyoroti dampak perubahan iklim dalam memperburuk intensitas kebakaran ini. Suhu global yang meningkat akibat pembakaran bahan bakar fosil memperpanjang durasi musim kebakaran di California. Vegetasi yang mengering, ditambah dengan kelembapan udara yang menurun, menciptakan kondisi sempurna untuk kebakaran besar.
Menurut Stefan Doerr, Direktur Pusat Penelitian Kebakaran Liar di Universitas Swansea, tren ini telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir. “Musim kebakaran di California telah diperpanjang secara signifikan akibat perubahan iklim yang semakin cepat,” ujarnya.
Tantangan dalam Upaya Pemadaman
Selain kondisi alam yang mempersulit, kekurangan pasokan air menjadi kendala utama dalam upaya memadamkan kebakaran. Beberapa waduk besar, termasuk waduk di Palisades yang berkapasitas 117 juta galon, telah ditutup sejak Februari 2024. Akibatnya, banyak hidran yang kering, sehingga menghambat upaya petugas pemadam kebakaran.
Salah satu petugas di lokasi kejadian mengungkapkan, “Kami kehilangan sebagian besar tekanan hidran ketika hendak mengisi ulang air kendaraan.” Bahkan jika pasokan air mencukupi, para ahli menyebut angin kencang tetap menjadi penghalang besar, karena helikopter pemadam tak dapat beroperasi dengan optimal dalam kondisi tersebut.
Kebakaran Los Angeles ini menjadi pengingat nyata bahwa dampak perubahan iklim semakin sulit diabaikan. Selain memicu kondisi yang memungkinkan kebakaran meluas dengan cepat, perubahan iklim juga memperburuk ketersediaan sumber daya untuk mengatasi bencana.
Ke depan, perlu ada langkah kolektif untuk mengatasi penyebab mendasar dari bencana seperti ini. Pengurangan emisi gas rumah kaca, manajemen vegetasi, dan investasi pada infrastruktur kebakaran yang memadai harus menjadi prioritas, agar peristiwa serupa tidak kembali terulang dengan skala yang lebih besar.
Bagi para korban, dukungan dan bantuan kemanusiaan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan ribuan bangunan yang rusak, kebakaran ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam bagi masyarakat yang terdampak.
Advertisement
