Advertisement
GazanaPublika.com, Washington DC — Sebuah proposal kontroversial yang digagas mantan Presiden AS Donald Trump untuk merelokasi warga Palestina dari Jalur Gaza ke tiga wilayah di Afrika Timur memicu reaksi keras dari pemerintah setempat dan komunitas internasional. Sudan, Somalia, dan Somaliland secara tegas menyatakan penolakan atau mengklaim tidak pernah terlibat dalam pembicaraan tersebut, meski sumber anonim AS dan Israel mengaku telah melakukan pendekatan. “Kami menolak menjadi bagian dari skema kolonial modern yang mengorbankan hak rakyat Palestina,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Sudan dalam pernyataan resmi, dikutip dari Associated Press.
Rencana tersebut, yang disebut sebagai “visi berani” oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dianggap oleh banyak pihak sebagai upaya pemindahan paksa yang melanggar hukum humaniter internasional. “Ini bukan solusi, melainkan pengulangan tragedi kemanusiaan seperti Nakba 1948,” kata Amal Hassan, aktivis HAM asal Gaza, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera.
Advertisement
Menurut dokumen rahasia yang bocor ke media lokal Somalia, AS dan Israel disebut menawarkan paket insentif senilai miliaran dolar, termasuk pembangunan infrastruktur dan dukungan militer, sebagai imbalan kesediaan menerima pengungsi Palestina. Namun, Perdana Menteri Somalia Mohamed Hussein Roble membantah keras: “Tidak ada pemerintahan yang sah akan menukar kedaulatan dengan uang. Somalia bukan pasar loak!” (The East African).
Di Somaliland, wilayah yang memproklamirkan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, situasinya lebih rumit. Seorang pejabat anonim mengungkapkan kepada Reuters bahwa “ada pembicaraan informal, tetapi tidak serius.” Namun, pemerintah setempat menampik: “Somaliland berkomitmen pada perdamaian global, bukan eksperimen geopolitik yang berisiko,” tegas Menteri Luar Negeri Somaliland, Essa Kayd.
Di tengah gelombang penolakan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich justru mempertegas komitmennya. “Kami sedang menyiapkan departemen khusus untuk memfasilitasi emigrasi sukarela. Ini demi masa depan yang lebih baik bagi semua pihak,” ujarnya dalam konferensi pers di Tel Aviv, dikutip dari Haaretz. Pernyataan ini langsung ditanggapi oleh Liga Arab sebagai “bahaya bagi stabilitas regional.”
Analis politik dari think tank Afrika, Tunde Okoye, memperingatkan bahwa rencana ini bisa memicu ketegangan baru. “Mengorbankan Afrika sebagai ‘tempat sampah’ geopolitik adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Ini akan memperkuat gerakan anti-Barat di seluruh benua,” paparnya dalam wawancara dengan BBC Africa.
Sementara itu, warga Gaza terus menggelar aksi protes. “Kami tidak akan pergi. Gaza adalah rumah kami, dan kami akan mati untuknya,” seru Mahmoud Abbas, seorang guru di Khan Younis, dikutip dari The New Arab.
Gedung Putih hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi, tetapi sumber internal menyebut Trump “masih yakin visinya bisa direalisasikan.” Namun, dengan penolakan yang semakin masif, rencana ini diprediksi akan mentah sebelum matang—sebuah mimpi ultranasionalis yang mungkin tetap terpendam dalam arsip sejarah.
Advertisement
