GazanaPublika.com, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengukir sejarah baru dalam struktur militer Indonesia. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 84 Tahun 2025, tiga satuan elite TNI kini dipimpin oleh perwira tinggi berpangkat jenderal bintang tiga (letnan jenderal/marsekal madya/laksamana madya) — menandai loncatan besar dalam penguatan posisi strategis pasukan khusus di tubuh TNI.
Tiga satuan tersebut adalah Korps Marinir (TNI AL), Komando Pasukan Khusus/Kopassus (TNI AD), dan Korps Pasukan Gerak Cepat/Kopasgat (TNI AU). Ketiganya kini dipimpin oleh “panglima”, menggantikan nomenklatur sebelumnya, yaitu “komandan jenderal”, yang hanya berpangkat bintang dua.
Langkah ini diambil untuk menyesuaikan struktur organisasi TNI dengan kebutuhan pertahanan nasional modern, sekaligus memperkuat daya gentar dan otoritas satuan-satuan elite di tengah ancaman global yang kian kompleks.
“Ini bukan sekadar perubahan gelar. Ini adalah pengakuan terhadap peran sentral satuan elite kita dalam pertahanan nasional. Mereka bukan lagi pendukung operasi, tapi kini aktor utama,” ujar seorang sumber militer kepada CNN Indonesia, Jumat (8/8/2025).
Perpres yang ditandatangani pada 5 Agustus 2025 ini juga menghidupkan kembali Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), yang sempat dilebur pada 2022. Kohanudnas kini berdiri mandiri, dengan komando dipimpin oleh panglima bintang tiga dari TNI AU. Jabatan ini kini dipercayakan kepada Marsekal Madya TNI Andyawan Martono, eks Wakil KSAU.
Kohanudnas akan menjadi garda depan dalam pengawasan dan pertahanan ruang udara nasional, sekaligus mendukung operasi udara lainnya dalam menjaga kedaulatan langit Indonesia.
Reorganisasi Matra Laut dan Mabes TNI
Tak hanya itu, matra laut juga mengalami perombakan. Lantamal kini resmi berubah menjadi Komando Daerah TNI AL (Kodaeral). Jika sebelumnya dipimpin perwira bintang satu, kini dipimpin oleh bintang dua — merefleksikan penguatan peran pangkalan laut sebagai titik strategis operasional.
Perubahan juga menyentuh Mabes TNI, di mana posisi Asisten Operasi dan Asisten Kebijakan Strategis Panglima TNI kini dinaikkan ke level bintang tiga. Perubahan ini diharapkan memberi ruang manuver yang lebih luas dalam merancang dan mengoordinasikan kebijakan pertahanan jangka panjang.
Modernisasi Struktur ala Prabowo
Langkah Prabowo ini dinilai sebagai upaya modernisasi struktur militer secara holistik, menyesuaikan diri dengan geopolitik kawasan yang dinamis dan kebutuhan mempercepat respon operasional TNI.
Dalam laporannya, The Diplomat, media kebijakan luar negeri berbasis di Asia Pasifik, menyoroti keputusan ini sebagai bagian dari strategi Prabowo untuk “memperkuat matra-matra taktis dalam tubuh TNI dan menyiapkan Indonesia sebagai kekuatan regional dalam beberapa dekade mendatang.”
Dengan ini, tampaknya TNI benar-benar sedang disiapkan untuk menghadapi abad baru pertahanan — yang bukan hanya soal jumlah personel, tetapi struktur, kesiapan, dan presisi dalam komando.
