Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Gelombang Protes Meluas di AS Usai Penembakan Agen Imigrasi di Portland

Gelombang Protes Meluas di AS Usai Penembakan Agen Imigrasi di Portland

Nasional Sabtu, 10 Januari 2026 21:18 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Portland — Ketegangan terkait kebijakan penegakan imigrasi Amerika Serikat kembali memanas setelah agen federal menembak dan melukai dua warga sipil di Portland, Oregon. Insiden yang terjadi pada Kamis, 8 Januari 2026, itu dengan cepat memicu kemarahan publik dan menjalar menjadi gelombang protes nasional di berbagai kota besar Amerika Serikat.

Menurut keterangan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), penembakan terjadi saat agen U.S. Border Patrol melakukan operasi penghentian kendaraan di sebuah area parkir. Pihak federal menyebut agen melepaskan tembakan setelah pengemudi diduga mencoba menabrakkan mobil ke arah petugas. Dua orang—seorang pria dan seorang perempuan—mengalami luka tembak dan dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi stabil.

Advertisement

Namun, narasi resmi pemerintah federal segera dipertanyakan. Hingga kini, belum ada bukti independen yang mengonfirmasi klaim bahwa para korban memiliki keterkaitan dengan kelompok kriminal terorganisir. Otoritas lokal di Portland, termasuk pejabat kota dan Jaksa Agung negara bagian Oregon, menyatakan keberatan atas operasi tersebut dan menuntut penyelidikan menyeluruh terhadap penggunaan kekuatan oleh agen federal.

Situasi semakin sensitif karena insiden di Portland terjadi hanya sehari setelah penembakan fatal oleh agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis, Minnesota. Dalam peristiwa terpisah itu, seorang perempuan bernama Renee Good, berusia 37 tahun, dilaporkan tewas ditembak saat operasi penegakan imigrasi. Dua kejadian beruntun tersebut menjadi pemicu utama ledakan kemarahan publik.

BACA JUGA:  Anak Krakatau Masih Siaga, Erupsi Menerus Reda tetapi Ancaman Letusan Belum Usai

Demonstrasi Nasional dan Simbol Perlawanan

Aksi protes kemudian bermunculan di puluhan kota di seluruh Amerika Serikat. Kelompok advokasi hak imigran dan organisasi masyarakat sipil mengoordinasikan demonstrasi dengan slogan ‘ICE Out for Good’, menuntut penghentian operasi ICE dan akuntabilitas aparat federal. Di Portland, ratusan orang turun ke jalan dan berkumpul di sekitar fasilitas ICE, membawa poster kecaman serta simbol-simbol perlawanan budaya populer—termasuk bendera Jolly Roger dari serial ‘One Piece’—yang menjadi penanda protes generasi muda.

Sebagian besar aksi berlangsung damai, meski di sejumlah lokasi terjadi ketegangan dan bentrokan terbatas dengan aparat kepolisian. Para demonstran menuding pemerintah pusat telah melakukan ‘militerisasi’ penegakan hukum sipil, terutama di kota-kota yang dipimpin pemerintahan lokal dari Partai Demokrat.

BACA JUGA:  Praperadilan: Kata Febrie, Polri Santai Saja

Pejabat daerah secara terbuka mengkritik kehadiran agen federal yang dinilai tidak terkoordinasi dengan otoritas lokal. Wali Kota Portland dan sejumlah legislator negara bagian menilai pendekatan keras pemerintah federal justru memperburuk situasi keamanan dan merusak kepercayaan publik.

Sebaliknya, pemerintah Presiden Donald Trump membela kebijakan tersebut sebagai langkah tegas untuk menindak pelanggaran hukum imigrasi dan kejahatan lintas negara. Gedung Putih menyatakan operasi yang dilakukan ICE dan Border Patrol sah secara hukum dan diperlukan demi menjaga keamanan nasional.

Insiden terbaru ini menambah daftar panjang konflik antara pemerintah federal dan kota-kota yang dikenal sebagai ‘sanctuary cities’. Sejak 2025, Portland telah berulang kali menjadi pusat demonstrasi besar menentang kebijakan imigrasi federal, menjadikannya simbol perlawanan sipil terhadap pendekatan penegakan hukum yang agresif.

Dengan meningkatnya intensitas protes dan tekanan politik dari berbagai arah, penembakan di Portland dan Minneapolis kini tidak lagi dipandang sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai bagian dari krisis yang lebih luas dalam hubungan antara negara, aparat keamanan, dan hak-hak sipil di Amerika Serikat.

Advertisement

IKN Konflik Politik
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Nasional

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Berita Utama

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Nasional

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Didakwa Terima Suap Rp203 Miliar, Modus Pembayaran Jasa Hukum

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version