Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Jusuf Kalla Mengkritik Kurikulum Merdeka, Menilai Tidak Cocok untuk Pelajar

Jusuf Kalla Mengkritik Kurikulum Merdeka, Menilai Tidak Cocok untuk Pelajar

Nasional Kamis, 10 Oktober 2024 20:15 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Investor.id

Advertisement

GazanaPublika.com – Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan kritik terhadap kebijakan Kurikulum Merdeka yang diterapkan secara nasional. Menurutnya, kurikulum ini mungkin efektif untuk satu atau dua sekolah, tetapi tidak dapat diimplementasikan di seluruh Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan oleh JK saat peluncuran dan bedah buku ‘Menegakkan Amanat Konstitusi Pendidikan’ yang ditulis oleh anggota DPR RI, Dede Yusuf M. Effendi, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X periode 2019-2024. Dalam sambutannya, JK menyoroti penghapusan sistem ranking di sekolah, yang dianggapnya mengurangi semangat bersaing di kalangan siswa. “Dulu cucu saya bangga melaporkan prestasinya saat mendapatkan ranking 2 atau 3. Sekarang, jika dia dapat nomor 25, dia hanya diam,” ujar JK dengan nada bercanda di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (10/10/2024).

Advertisement

JK menggarisbawahi pentingnya persaingan di dunia pendidikan, mengingat dunia saat ini sangat kompetitif. Ia berpendapat bahwa prinsip reward and punishment tetap relevan dalam pendidikan. “Jika semuanya hanya diberikan reward, maka tidak akan ada disiplin, semua siswa akan naik kelas tanpa usaha,” tegasnya.

BACA JUGA:  Polri Tegaskan Penetapan Febrie Adriansyah sebagai Tersangka Berdasarkan Lebih dari Dua Alat Bukti

Mengenai Kurikulum Merdeka, JK menganggap bahwa kurikulum ini tidak cocok diterapkan secara nasional, melainkan lebih tepat untuk konteks yang terbatas. Ia mencatat bahwa hanya sekolah-sekolah tertentu yang memiliki fasilitas lengkap dan biaya tinggi yang bisa menerapkan kurikulum tersebut dengan baik. “Salah satu teman saya memiliki sekolah swasta di Jakarta yang memungut biaya Rp 100 juta untuk masuk dan Rp 10 juta setiap bulan. Di kelas tersebut, siswa hanya 20 orang dengan 2 guru. Dalam situasi seperti itu, sistem merdeka dapat dijalankan,” ungkapnya.

JK juga menyoroti tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah di daerah dengan jumlah siswa yang lebih banyak dan sumber daya yang terbatas. “Di daerah dengan 40 siswa per kelas dan hanya satu guru, bagaimana mungkin mereka dapat menerapkan konsep merdeka?” tanyanya.

BACA JUGA:  137 Wilayah Jakarta Rawan Narkoba, DPRD DKI Sahkan Perda P4GN dan Siapkan Dukungan BTT

Ia mengaitkan kondisi pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di Finlandia, yang dinilainya berhasil karena negara tersebut sudah sangat maju dengan fasilitas yang terjamin. “Di Finlandia, satu kelas hanya terdiri dari 16 siswa, dengan berbagai fasilitas seperti laboratorium untuk kimia, fisika, musik, dan olahraga. Pendapatan per kapita mereka mencapai 70.000 dolar AS per tahun, sementara kita hanya 4.500 dolar. Bagaimana kita bisa menerapkan konsep merdeka di sini?” jelas JK.

Dengan nada optimis, JK menyerukan perlunya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Ia berharap sistem yang diusulkan lebih cocok dan dapat diimplementasikan secara efektif untuk anak-anak di Indonesia. “Mari kita perbaiki sistem pendidikan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan negara kita,” tutup JK.

Sumber: Detik.com

Advertisement

Kemerdekaan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Nasional

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

Nasional

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Berita Utama

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

BERITA TERBARU

Gerakan 9 Bersama AMPP Gelar Aksi, Soroti Dugaan Buruknya Kualitas Jalan Program Bang Andra di Lebak Selatan

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.