Advertisement
Penulis: Kharisma J. Malaka
GazanaPublika.com – Dalam sejarah pengetahuan manusia, narasi tentang asal-usul alam semesta selalu menjadi medan pertemuan antara sains, filsafat, dan spiritualitas. Setiap zaman memiliki “kisah penciptaannya” sendiri, dan sains modern pun tak luput dari kecenderungan itu. Salah satu teori yang paling dikenal dan dijadikan tonggak dalam kosmologi kontemporer adalah teori Big Bang. Namun jika dibaca melalui pendekatan hermeneutik, teori ini tidak sekadar menjadi produk rasionalitas objektif, melainkan teks yang sarat dengan tafsir dan warisan pemikiran pendirinya—Georges Lemaître, seorang ilmuwan sekaligus imam Katolik Roma.
Advertisement
Sebagai seorang tokoh yang memegang dua otoritas sekaligus—sains dan teologi—Lemaître tidak bisa dipisahkan dari konteks ideologis dan spiritual tempat ia tumbuh. Ketika ia merumuskan gagasan bahwa alam semesta berasal dari sebuah ‘atom purba’ atau titik tunggal yang sangat padat dan panas, ia tidak hanya mengusulkan kerangka fisika. Ia sedang, secara sadar maupun tidak, memformulasikan ulang narasi penciptaan dalam terminologi ilmiah. Titik tunggal yang menjadi sumber segalanya itu bukan sekadar objek fisik, melainkan simbol dari ‘yang awal’ dalam banyak sistem keyakinan. Dalam konteks teologi Katolik yang ia anut, ide tentang segala sesuatu bermula dari kehampaan karena sebuah kehendak ilahi sangat akrab. Maka, ketika ia menolak menyebut Tuhan dalam formulasi ilmiahnya, kita justru bisa bertanya: apakah yang tak disebut itu sungguh absen, atau justru menjadi ‘kehadiran tersembunyi’ dalam struktur berpikirnya?
Melalui pendekatan hermeneutik, kita memahami bahwa makna tidak sepenuhnya berada dalam teks, melainkan lahir dari hubungan antara penulis, teks, dan penafsir. Teks ilmiah seperti Big Bang bukanlah entitas netral yang mengapung bebas dalam ruang intelektual. Ia adalah produk dari subjektivitas penulisnya—dalam hal ini, Lemaître—yang membawa beban historis, spiritual, dan filsafat tertentu. Maka pembacaan terhadap teori ini oleh generasi-generasi berikutnya akan selalu membawa warna dari konteks penafsir: apa yang ingin dilihat, apa yang ingin ditegaskan, dan apa yang sengaja diabaikan. Ketika para ilmuwan masa kini mengutip Big Bang sebagai penjelasan rasional atas alam semesta, mereka sebenarnya sedang menafsirkan teks tersebut dalam horizon makna yang sudah disempitkan, seolah-olah ia murni empiris dan logis. Padahal, jika dibuka ruang untuk membaca struktur batin dari teori ini, kita akan menemukan sesuatu yang lebih menyerupai doktrin: yakni keyakinan bahwa dari ketidakberwujudan mutlak bisa lahir segala sesuatu—tanpa sebab yang dapat diuji.
Di sinilah dogma tersembunyi bekerja. Ia tidak muncul dalam bentuk pernyataan eksplisit, melainkan bersembunyi di balik istilah-istilah teknis seperti ‘singularitas,’ ‘fluktuasi kuantum,’ atau ‘awal waktu.’ Kata-kata ini tidak menjelaskan, melainkan justru menyamarkan bahwa di dalamnya terdapat ruang kosong yang tak dapat disentuh oleh metodologi ilmiah. Dogma ini lebih bersifat implisit: bahwa kita harus menerima keberadaan kondisi awal yang tidak dapat dijelaskan, sebagai fondasi dari seluruh struktur kosmologi. Ini bukan lagi sains dalam arti ketat, tetapi lebih mendekati bentuk kepercayaan ilmiah—iman terhadap ketidaktahuan yang dilegitimasi oleh otoritas akademik.
Tidak sedikit ilmuwan dan filsuf yang telah menunjukkan ketidakkonsistenan ini. Fred Hoyle menolak teori Big Bang karena baginya teori ini terlalu menyerupai kisah religius penciptaan, hanya dengan bahasa yang diganti. Eric Lerner bahkan menyebutnya sebagai ideologi, bukan teori, karena terus dipaksakan meskipun banyak data yang tidak sesuai. Thomas Kuhn memperingatkan bahwa paradigma ilmu pengetahuan sering kali lebih ditentukan oleh kebiasaan berpikir kolektif daripada pembuktian rasional yang ketat. Jika demikian, maka teori Big Bang bukanlah kemenangan logika, melainkan bentuk narasi penciptaan baru yang telah disucikan oleh komunitas ilmiah modern.
Dalam terang hermeneutik, kita ditantang untuk tidak hanya membaca teori Big Bang sebagai ‘apa adanya,’ tetapi juga menggali ‘mengapa ia ada,’ ‘siapa yang menulisnya,’ dan ‘dalam konteks pemikiran apa ia disusun.’ Maka sangat masuk akal bila teori ini, yang tampak rasional di permukaan, ternyata memiliki akar mistik yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Yang berubah hanyalah wujud dan bahasanya. Mistik yang dulu diungkapkan dalam simbol-simbol suci kini muncul dalam rumus-rumus relativitas. Namun esensinya tetap: sebuah penjelasan tentang awal mula segalanya yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Dengan kesadaran hermeneutik seperti ini, kita tidak lagi terjebak dalam dikotomi palsu antara ilmu dan iman, antara rasionalitas dan mistik. Sebaliknya, kita justru melihat bahwa banyak teori besar, termasuk Big Bang, berdiri di atas jembatan yang menghubungkan keduanya—sebuah jembatan yang rapuh, namun tidak bisa dihindari. Di sana, antara Lemaître sebagai penulis, teori Big Bang sebagai teks, dan pembaca masa kini sebagai penafsir, berlangsung dialog yang terus hidup, dan di dalamnya, kebenaran tidak pernah tunggal, tidak pernah final.
Teori Big Bang merupakan penanda kebuntuan rasionalitas dalam memahami misteri penciptaan; ia mengisyaratkan bahwa di balik kekuatan logika terdapat ruang yang tak tersentuh oleh nalar, wilayah yang melampaui batas-batas pengetahuan rasional. Namun, kaum rasionalis cenderung menolak untuk mengakui keberadaan dimensi yang tak logis itu, seolah-olah segala sesuatu harus tunduk pada logika meskipun logika sendiri telah mencapai titik batasnya.
Advertisement
