Advertisement
Penulis: Iyang Bahtiar
GazanaPublika.com – Di sebuah negeri, seorang Raja dan Ratu berteman sangat akrab. Setiap kali ada pertemuan penting, mereka selalu hadir bersama. Sang Ratu, dengan keanggunan dan kecantikan parasnya, dikenal sebagai sosok yang rendah hati, mandiri, dan populer. Prajuritnya berjumlah ratusan ribu, bahkan jutaan, dan kepribadiannya yang disukai membuatnya selalu dihormati dan disanjung oleh banyak orang.
Advertisement
Seiring berjalannya waktu, keakraban dan pertemanan mereka semakin erat. Karena keanggunan, kecantikan, dan kemandiriannya, sang Ratu mulai dilirik oleh berbagai kalangan, bukan hanya oleh prajuritnya saja. Oleh karena itu, ia diberikan mandat untuk merekrut lebih banyak pendukung, namun tugasnya hanya terbatas pada wilayahnya saja. Dengan kepribadian yang kuat dan tangguh, ia berhasil meningkatkan jumlah pasukan prajuritnya. Sayangnya, karena ia masih memiliki ikatan tertentu, ia tidak bisa sepenuhnya bebas bergerak sesuai dengan rencana sang penguasa.
Sang pemberi mandat kemudian memutuskan untuk mencalonkan dirinya dalam pemilihan menuju posisi tertinggi di negeri Indonesia. Dengan kepribadiannya yang sudah dikenal luas, ia berhasil memenangkan suara telak di wilayah yang merupakan basis dari sang Ratu, berkat dukungan dari berbagai pihak dan komponen masyarakat lainnya.
Setelah berhasil menduduki posisi yang diinginkan, sang penguasa pun berkeinginan untuk mencalonkan kader terbaiknya di tingkat pemerintahan, meski hanya dalam lingkup wilayah atau daerah. Meskipun memiliki banyak pendukung, ia tetap harus didukung oleh rekomendasi-rekomendasi yang sesuai dengan kesepakatan demokrasi.
Namun, ternyata ada kandidat lain yang siap mencalonkan diri sebagai pesaing. Kandidat ini mulai mendekati sang Ratu dengan diskusi-diskusi yang sejalan, sehingga banyak pihak yang bukan kadernya pun siap mendukungnya. Tak disangka, seorang sosok yang dianggap sebagai pesaing terkuat juga ikut serta dalam pencalonan ini. Keadaan menjadi tidak menentu, dan sang penguasa mulai merasa cemas bahwa pengorbanan dan pengabdiannya selama ini tidak dihargai.
Dengan modal elektabilitas yang tinggi, sang Ratu mulai dilirik oleh pihak yang lebih besar, yang kali ini belum memberikan dukungan kepada siapa pun dan bahkan menyatakan dirinya sebagai oposisi. Pada akhirnya, oposisi ini memberikan dukungan kepada sang Ratu, yang semula terabaikan, hingga akhirnya ia resmi menjadi bakal calon di wilayahnya berkat dukungan dari partai oposisi.
Suasana politik di negeri itu semakin memanas, terutama di wilayah Banten. Setelah mendengar bahwa lawan politiknya berencana mencalonkan diri di Pilgub wilayahnya, meskipun sebelumnya telah merekomendasikan dukungan kepada kader lain, sang penguasa mencabut kembali dukungan tersebut dan memilih untuk mengusung kadernya sendiri.
Pada akhirnya, Raja pun harus mengakui kekalahan di tangan sang Ratu, yang elektabilitasnya begitu tinggi. Karena menyadari bahwa ia mungkin tidak akan memiliki penerus jika tidak menyatu dengan sang Ratu melalui pernikahan politik, Raja memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan dengan menikahi sang Ratu. Para wali nikah, saksi-saksi, dan rombongan pengantar pun datang ke tempat penghulu untuk melangsungkan pernikahan mereka. Beberapa saat kemudian, acara penyerahan dan penerimaan selesai, dan akad nikah dinyatakan sah oleh para saksi.
Begitulah dinamika Pilkada Provinsi Banten, di mana seseorang yang tadinya diabaikan kini dirangkul kembali karena menyadari bahwa mengabaikan seseorang dengan elektabilitas tinggi bisa menyebabkan keretakan atau bahkan keruntuhan dalam koalisi. PDIP dan Golkar akhirnya menyatu dalam dukungan mereka. Namun, hanya waktu yang akan menunjukkan apakah aliansi ini akan bertahan atau berubah seiring perkembangan politik di masa depan.(*)
Advertisement
