Advertisement
GazanaPublika.com – Paribasa adalah berasal dari bahasa Sunda yang artinya ungkapan keadaan ketika terjadi kepada sesuatu yang digambarkan atau diungkapkan dengan kalimat. Paribasa itu sendiri tidak bisa dialih bahasakan karena akan berubah secara pemaknaan atau konotasinya.
Berikut ini penulis akan mencoba menggambarkan atau mengartikan paribasa tersebut ke dalam bahasa Indonesia. “Jogjog neurey buah loa”
paribasa atau pribahasa tersebut mengartikan bahwa keadaan seseorang yang sedang melakukan sesuatu pekerjaan jauh diluar kemampuannya.
Advertisement
“Jogjog” adalah nama satu jenis burung kecil, bentuknya tidak lebih besar dari jempol kaki orang dewasa.
“Neurey” itu artinya menelan sedangkan “Buah loa” itu sendiri berati sejenis buah kayu liar yang bentuknya rata rata lebih besar dari burung Jogjog itu tadi.
Oleh karena keadaan itu sangat tidak mungkin bagi si burung untuk menelan buah loa tersebut. Secara pemaknaan ketika hal itu terjadi kepada keadaan manusia maka sering orang Sunda menggambarkan hal tersebut dengan pribahasa tadi . Yaitu “Jogjog neurey buah loa.”
Banyak lagi paribasa yang lain nya yang biasa digunakan masyarakat Sunda , yang sekarang malah semakin terasa asing di telinga orang Sunda itu sendiri. Dikarenakan perubahan zaman dan minimnya pengetahuan tentang bahasa lokal itu sendiri. Hal itu pula yang mendorong penulis berkeinginan untuk kembali menggali paribasa Sunda itu demi lestarinya bahasa dan budaya warisan leluhur.
Penulis:
Ade Ahmad Saprudin (Desk Rubrik Budaya GazanaPublika.com)
Advertisement
