Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Paribasa Dalam Telaah Bahasa Sunda (Budaya Sunda edisi 1))

Paribasa Dalam Telaah Bahasa Sunda (Budaya Sunda edisi 1))

Opini Rabu, 29 November 2023 16:24 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
suku-sunda

Advertisement

GazanaPublika.com – Paribasa adalah berasal dari bahasa Sunda yang artinya ungkapan keadaan ketika terjadi kepada sesuatu yang digambarkan atau diungkapkan dengan kalimat. Paribasa itu sendiri tidak bisa dialih bahasakan karena akan berubah secara pemaknaan atau konotasinya.

Berikut ini penulis akan mencoba menggambarkan atau mengartikan paribasa tersebut ke dalam bahasa Indonesia. “Jogjog neurey buah loa”
paribasa atau pribahasa tersebut mengartikan bahwa keadaan seseorang yang sedang melakukan sesuatu pekerjaan jauh diluar kemampuannya.

Advertisement

“Jogjog” adalah nama satu jenis burung kecil, bentuknya tidak lebih besar dari jempol kaki orang dewasa.

BACA JUGA:  Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

“Neurey” itu artinya menelan sedangkan “Buah loa” itu sendiri berati sejenis buah kayu liar yang bentuknya rata rata lebih besar dari burung Jogjog itu tadi.

Oleh karena keadaan itu sangat tidak mungkin bagi si burung untuk menelan buah loa tersebut. Secara pemaknaan ketika hal itu terjadi kepada keadaan manusia maka sering orang Sunda menggambarkan hal tersebut dengan pribahasa tadi . Yaitu “Jogjog neurey buah loa.”

Banyak lagi paribasa yang lain nya yang biasa digunakan masyarakat Sunda , yang sekarang malah semakin terasa asing di telinga orang Sunda itu sendiri. Dikarenakan perubahan zaman dan minimnya pengetahuan tentang bahasa lokal itu sendiri. Hal itu pula yang mendorong penulis berkeinginan untuk kembali menggali paribasa Sunda itu demi lestarinya bahasa dan budaya warisan leluhur.

BACA JUGA:  MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Penulis:
Ade Ahmad Saprudin (Desk Rubrik Budaya GazanaPublika.com)

Advertisement

Bahasa Budaya Sunda Tradisi
Ade Ahmad Syafrudin

BERITA LAINNYA

Opini

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version