Advertisement
Penulis: Pista Nur Suhartati
GazanaPublika.com – Banten adalah provinsi di ujung barat Pulau Jawa, Indonesia, yang memiliki kedekatan geografis dengan Jakarta. Selain itu, Banten dikenal dengan keunikannya dalam politik, khususnya keterkaitannya dengan Dinasti Atut. Pada Pilkada 2024, setidaknya ada empat anggota keluarga Ratu Atut Chosiyah yang mencalonkan diri di berbagai level pemerintahan. Mereka adalah Airin Rachmi Diany (adik ipar) di tingkat provinsi, Ratu Ria Maryana (adik tiri) di tingkat Kota Serang, Andika Hazrumy (anak) di tingkat Kabupaten Serang, dan Pilar Saga Ichsan (keponakan) di tingkat Tangerang Selatan. Namun, berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Provinsi Banten, banyak pasangan yang bersanding dengan Dinasti Atut justru mengalami kekalahan.
Advertisement
Kekalahan Pasangan Airin-Ade di Pilgub Banten
Berdasarkan rekapitulasi KPU, pasangan nomor urut 01 Airin-Ade memperoleh 2.449.183 suara, sementara pasangan nomor urut 02 Andra-Dimyati meraih 3.102.501 suara. Hasil ini menetapkan pasangan Andra-Dimyati sebagai pemenang Pilkada Gubernur Banten 2024.
Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi keluarga Atut, terutama mengingat tingkat elektabilitas Airin Rachmi Diany yang sempat mencapai 77,3% berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI). Elektabilitas yang tinggi tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil pencoblosan, di mana masyarakat Banten lebih memilih pasangan Andra Soni-Dimyati.
Kekalahan ini perlu menjadi evaluasi bagi tim pemenangan Airin, yang diduga terlalu percaya diri dan lengah dalam menghadapi strategi senyap tim Andra-Dimyati. Beberapa mesin partai pendukung Airin-Ade pun tampaknya tidak bekerja maksimal, sehingga upaya pemenangan menjadi kurang solid.
Angin Segar untuk Masyarakat Banten
Kekalahan Airin pada Pilkada 2024 membawa angin segar bagi masyarakat Banten. Ini menjadi sinyal bahwa dominasi Dinasti Atut dalam politik Banten mulai memudar. Perolehan suara kemenangan Andra-Dimyati mencerminkan kejenuhan masyarakat terhadap kepemimpinan yang didominasi oleh satu kelompok tertentu.
Pilkada 2024 menjadi momentum penting, menandai babak baru demokrasi di Banten. Ronde ini tidak hanya menutup lembaran Dinasti Atut, tetapi juga membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih inklusif dan beragam. Babak baru ini diharapkan membawa perubahan positif bagi masyarakat Banten, baik dalam hal kebijakan maupun pembangunan.
Kekalahan Pasangan Ratu Ria-Badri
Dinasti Atut tidak hanya mengalami kekalahan di tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat Pemilihan Walikota Serang. Pasangan Ratu Ria-Badri harus menerima kekalahan telak dari pasangan Budi-Agis yang meraih suara terbanyak. Berdasarkan rekapitulasi suara KPU, pasangan Budi-Agis memperoleh 212.262 suara, unggul jauh dari Ratu Ria-Badri yang hanya memperoleh 78.607 suara, sementara pasangan Syafrudin-Heriyanto berada di urutan ketiga dengan 61.446 suara.
Dengan hasil ini, pasangan Budi-Agis dinyatakan sebagai pemenang Pilkada Serang 2024-2029. Kekalahan Ratu Ria-Badri menjadi indikasi bahwa pengaruh Dinasti Atut di Kota Serang telah memudar. Masyarakat tampaknya semakin menginginkan pemimpin baru yang terbebas dari bayang-bayang Dinasti Atut.
Kekalahan Pasangan Andika-Nanang
Di tingkat Kabupaten Serang, pasangan Andika Hazrumy-Nanang Supriatna juga harus mengakui keunggulan pasangan Ratu Zakiyah-Najib Hamas dalam Pemilihan Bupati Serang 2024. Kekalahan ini cukup mengejutkan mengingat Andika, yang merupakan mantan Wakil Gubernur Banten (2017-2022), memiliki tingkat elektabilitas yang sangat tinggi. Berdasarkan survei Pandawa Research, elektabilitas Andika mencapai 82,1 persen.
Namun, elektabilitas tinggi dan popularitas Andika tampaknya tidak cukup untuk memenangkan suara rakyat. Masyarakat Serang lebih memilih pasangan Ratu Zakiyah-Najib Hamas yang dinilai tidak memiliki keterkaitan dengan Dinasti Atut. Kekalahan ini menjadi bukti bahwa kekuatan politik keluarga Atut mulai kehilangan pengaruhnya.
Selain lemahnya mesin partai pendukung, kekalahan Dinasti Atut pada Pilkada 2024 juga mencerminkan kesadaran masyarakat Banten akan perlunya perubahan. Selama bertahun-tahun, Dinasti Atut mendominasi peta politik di Banten, tetapi masyarakat kini tampaknya menginginkan pemimpin baru yang mampu membawa perubahan signifikan dan terbebas dari dominasi keluarga tertentu.
Sebagai langkah ke depan, masyarakat Banten perlu terus mengawal kepala daerah terpilih agar janji-janji kampanye mereka dapat direalisasikan. Momentum Pilkada 2024 ini menjadi awal yang baik untuk demokrasi yang lebih sehat dan inklusif di Banten.
Penulis: Mahasiswa Universitas Pamulang semester II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP)
Advertisement
