Advertisement
Penulis : Tedi Subarkah Kartaatmadja
GazanaPublika.com – Ketahanan pangan merupakan salah satu syarat terwujudnya masyarakat makmur dan sejahtera, dimana ketersediaan pangan menjadi inti dalam proses kelangsungan kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Ketahanan pangan berkaitan dengan dunia pertanian, perikanan serta lingkungan hidup.
Advertisement
Ada banyak varian Terkait sumber pangan yang terbentuk dari sejarah panjang masyarakat Nusantara, yaitu Padi huma/ladang, umbi-umbian, daun-daunan, ikan, unggas dan sebagainya.
Sumber pangan pokok yaitu beras, dimana masyarakat Nusantara, khususnya Sunda memiliki ciri tersendiri dalam prosesnya, salah satu ciri tersebut adalah Padi huma/padang atau Padi Gogo.
Secara historis, Padi Gogo merupakan salah satu sumber utama pangan masyarakat Jawa Barat atau warga Sunda. Hal tersebut dapat di kaji dari situs sejarah Tarumanagara di Ciaruteun mauoun kebon kopi Bigor, serta kawasan gunung Padang Cianjur. Namun lebih jauh lagi, terdapat jejak sejarah Padi Gogo/Huma di kawasan Agrabinta pura Cianjur Selatan.
Jadi menanam padi Gogo /Ngahuma (berladang)beserta seperangkat nilai dan tata cara yang apik dalam pemuliaan tanahnya, merupakan bagian dari sejarah kebudayaan warga Nusantara khususnya Tatar Sunda.
Namun tidak banyak juga warga, khususnya kaum muda yang tergerak untuk menekuni dunia ketahanan pangan, yang tersegmen dalam berhuma. Salah satu keunggulan dalam berhuma adalah tidak tergantung banyaknya air, lebih tahan terhadap hama, serta berasnya memiliki nutrisi yang baik untuk kesehatan.
Dengan meningkatnya jumlah penduduk, tentu saja berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan sebagai sumber energy pokok masyarakat.
Membangun kesadaran untuk berladang tidaklah mudah, banyak faktor yang menyebabkan minimnya minat masyarakat terhadap pertanian ladang, diantaranya adalah kurangnya perlindungan terhadap petaninya itu sendiri. Perlindungan termaksud adalah menyangkut kesehatan petani, peralatan pertaniannya serta bimbingan secara keilmuan, baik berupa korelasi sejarah budaya maupun teknologi pasca panen.
Didasari oleh pemahaman sejarah dan kebudayaannya, serya dalam rangka melestarikan adat pertanian tradisional, sekelompok pada Cianjur yang terhimpun dalam Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, melakukan kolaborasi pertanian ladang atau Ngahuma secara mandiri, dengan luas tanam 100 hektar yang tersebar di Kecamatan Cianjur, Sindangbarang, Agrabinta, Cibinong, Cikadu, Leles, Cibeber, Campaka, Mande dan Sukaluyu.
Kolaborasi dan langkah-langkah tersebut menimbulkan reaksi positif dari warga sekitar, khususnya kaum muda, yaitu perluasan rencana tanam huma seluas 499 hektar.
Kegiatan warga padepokan tersebut mendapatkan tanggapan positif dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia cq Dirjen Perbenihan dan Perkebunan. Tanggapan tersebut termanifestasi dalam bentuk bantuan pengadaan benih padi Gogo / Huma sebanyak 2500 kg, dengan sumber pembiayaan secara CSR dari PT. Sawit Bahandev dan PT. Sawit Graha Manunggal.
Penyerahan bantuannya secara simbolis di lakukan pada tanggal 21 Pebruari 2025 di Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, dan di hadiri oleh Ibu Direktur Perbenihan & Perkebunan, Kacab Dinas Kehutanan Prov Jabar, Perwakilan Perhutani Cianjur, Disbudpar Kab. Cianjur, Anggota TNI dan Polri Desa Nagrak Cianjur, warga padepokan serta perwakilan Petani milenial Cianjur yang terhimpun dalam Persaudaraan Tani Huma Cianjur.
Sebagai Sesepuh Padepokan sekaligus Ketua Persaudaraan Tani Huma Cianjur, Tedi Subarkah mengatakan “terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang sudah memberikan perhatian dan bantuannya, serta perusahaan yang memberikan CSRnya. Bantuan tersebut sangat berarti bagi kami sebagai pelaku budaya tradisi dan petani huma sebab dapat mengurangi biaya produksi, dan tentu saja kualitas benih yang bagus dapat mengurangi resiko hama maupun cuaca. Semoga petani huma Cianjur dapat memanfaatkannya dengan baik, dan melangsungkan proses kebudayaan yang berdampak terhadap ketersediaan cadangan pangan, minimal untuk pangan keluarga petani maupun masyarakat sekitarnya, hal tersebut sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, serta dapat membangun kesadaran masyarakat untuk berladang atau Ngahuma, khususnya masyarakat kaum muda, sebab seni budaya tradisional adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan pertanian”. ***
Penulis adalah pegiat budaya tinggal di Cianjur, Jawa Barat
Advertisement
