Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kolaborasi Seni Budaya Tradisional dan Berladang Sebagai Upaya Ketahanan Pangan

Kolaborasi Seni Budaya Tradisional dan Berladang Sebagai Upaya Ketahanan Pangan

Opini Jumat, 28 Maret 2025 10:40 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis : Tedi Subarkah Kartaatmadja

GazanaPublika.com – Ketahanan pangan merupakan salah satu syarat terwujudnya masyarakat makmur dan sejahtera, dimana ketersediaan pangan menjadi inti dalam proses kelangsungan kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Ketahanan pangan berkaitan dengan dunia pertanian, perikanan serta lingkungan hidup.

Advertisement

Ada banyak varian Terkait sumber pangan yang terbentuk dari sejarah panjang masyarakat Nusantara, yaitu Padi huma/ladang, umbi-umbian, daun-daunan, ikan, unggas dan sebagainya.

Sumber pangan pokok yaitu beras, dimana masyarakat Nusantara, khususnya Sunda memiliki ciri tersendiri dalam prosesnya, salah satu ciri tersebut adalah Padi huma/padang atau Padi Gogo.

Secara historis, Padi Gogo merupakan salah satu sumber utama pangan masyarakat Jawa Barat atau warga Sunda. Hal tersebut dapat di kaji dari situs sejarah Tarumanagara di Ciaruteun mauoun kebon kopi Bigor, serta kawasan gunung Padang Cianjur. Namun lebih jauh lagi, terdapat jejak sejarah Padi Gogo/Huma di kawasan Agrabinta pura Cianjur Selatan.

Jadi menanam padi Gogo /Ngahuma (berladang)beserta seperangkat nilai dan tata cara yang apik dalam pemuliaan tanahnya, merupakan bagian dari sejarah kebudayaan warga Nusantara khususnya Tatar Sunda.

Namun tidak banyak juga warga, khususnya kaum muda yang tergerak untuk menekuni dunia ketahanan pangan, yang tersegmen dalam berhuma. Salah satu keunggulan dalam berhuma adalah tidak tergantung banyaknya air, lebih tahan terhadap hama, serta berasnya memiliki nutrisi yang baik untuk kesehatan.

BACA JUGA:  Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Dengan meningkatnya jumlah penduduk, tentu saja berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan sebagai sumber energy pokok masyarakat.

Membangun kesadaran untuk berladang tidaklah mudah, banyak faktor yang menyebabkan minimnya minat masyarakat terhadap pertanian ladang, diantaranya adalah kurangnya perlindungan terhadap petaninya itu sendiri. Perlindungan termaksud adalah menyangkut kesehatan petani, peralatan pertaniannya serta bimbingan secara keilmuan, baik berupa korelasi sejarah budaya maupun teknologi pasca panen.

Didasari oleh pemahaman sejarah dan kebudayaannya, serya dalam rangka melestarikan adat pertanian tradisional, sekelompok pada Cianjur yang terhimpun dalam Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, melakukan kolaborasi pertanian ladang atau Ngahuma secara mandiri, dengan luas tanam 100 hektar yang tersebar di Kecamatan Cianjur, Sindangbarang, Agrabinta, Cibinong, Cikadu, Leles, Cibeber, Campaka, Mande dan Sukaluyu.

Kolaborasi dan langkah-langkah tersebut menimbulkan reaksi positif dari warga sekitar, khususnya kaum muda, yaitu perluasan rencana tanam huma seluas 499 hektar.

Kegiatan warga padepokan tersebut mendapatkan tanggapan positif dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia cq Dirjen Perbenihan dan Perkebunan. Tanggapan tersebut termanifestasi dalam bentuk bantuan pengadaan benih padi Gogo / Huma sebanyak 2500 kg, dengan sumber pembiayaan secara CSR dari PT. Sawit Bahandev dan PT. Sawit Graha Manunggal.

BACA JUGA:  Menakar Realitas Utang Indonesia dari Beban APBN dan Fiskal

Penyerahan bantuannya secara simbolis di lakukan pada tanggal 21 Pebruari 2025 di Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, dan di hadiri oleh Ibu Direktur Perbenihan & Perkebunan, Kacab Dinas Kehutanan Prov Jabar, Perwakilan Perhutani Cianjur, Disbudpar Kab. Cianjur, Anggota TNI dan Polri Desa Nagrak Cianjur, warga padepokan serta perwakilan Petani milenial Cianjur yang terhimpun dalam Persaudaraan Tani Huma Cianjur.

Sebagai Sesepuh Padepokan sekaligus Ketua Persaudaraan Tani Huma Cianjur, Tedi Subarkah mengatakan “terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang sudah memberikan perhatian dan bantuannya, serta perusahaan yang memberikan CSRnya. Bantuan tersebut sangat berarti bagi kami sebagai pelaku budaya tradisi dan petani huma sebab dapat mengurangi biaya produksi, dan tentu saja kualitas benih yang bagus dapat mengurangi resiko hama maupun cuaca. Semoga petani huma Cianjur dapat memanfaatkannya dengan baik, dan melangsungkan proses kebudayaan yang berdampak terhadap ketersediaan cadangan pangan, minimal untuk pangan keluarga petani maupun masyarakat sekitarnya, hal tersebut sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, serta dapat membangun kesadaran masyarakat untuk berladang atau Ngahuma, khususnya masyarakat kaum muda, sebab seni budaya tradisional adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan pertanian”. ***

 

Penulis adalah pegiat budaya tinggal di Cianjur, Jawa Barat

Advertisement

Budaya
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

BERITA TERBARU

Kasus Uun Berujung Restorative Justice, Ada Apa?

Haidar Widodo Ingatkan RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Pisau Bermata Dua

Ahok Khawatir UU Perampasan Aset Disalahgunakan

Intelijen Ukraina Klaim 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.