Advertisement
Penulis: Feri Kurniawan
GazanaPublika.com, – Di setiap tegukan kopi, kita tidak hanya menyeruput rasa, tetapi juga menelan jejak, jejak penderitaan atas himpitan hidup, jejak setiap hati yang terkoyak ketidakadilan, bahkan jejak obrolan para pembaharu di pojokan warung-warung kopi tua yang kumuh. Jacques Derrida, filsuf postmodernis, mungkin akan menyebut kopi sebagai teks yang tak pernah selesai, maknanya terus bergeser, ditunda dan di dekonstruksi. Di sini, kopi bukan sekadar simbol ketangguhan, melainkan medan pertarungan makna di mana kepahitan hidup dirayakan sebagai ruang kebebasan.
Advertisement
Derrida mengajarkan kita untuk membongkar relasi oposisi biner, baik-buruk, kuat-lemah, pahit-manis. Kopi, dalam hal ini, adalah guru yang pandai. Apa yang kita sebut “pahit” dalam kopi sebenarnya adalah kompleksitas rasa yang tak tereduksi, ada asam, kecut, bahkan rasa manis yang tersembunyi. Kopi menolak untuk dikurung dalam satu makna. Seperti kata Derrida: “Tidak ada yang di luar teks. Artinya, makna kopi selalu tergantung pada konteks, ia bisa menjadi simbol penindasan sekaligus alat pemberontakan.
Makna yang Selalu Ditunda
Konsep différance Derrida, tercermin dalam cara kopi bertransformasi. Biji kopi tak pernah mencapai makna final, ia bisa jadi komoditas di pasar saham, obat kantuk mahasiswa, atau ritual para Sufi. Maknanya selalu ditunda, seperti rasa kopi yang baru terasa utuh setelah berada dalam ekosistem yang melingkupinya. Atau bahkan cara barista meracik kopi seolah sedang menulis syair puisi, atau cara petani menggiling kopi dengan lesung sambil berbisik doa. Keduanya adalah praktik différance, kopi yang sama, tapi maknanya terus berlari menjauhi esensi tunggal. Di sini, Derrida mengingatkan, hidup kita pun seperti itu. Keterpurukan bukanlah akhir, melainkan momen penundaan makna sampai kita menemukan cara baru membaca diri.
Postmodernisme menolak meta narasi besar seperti “kebangkitan” atau “kesuksesan” yang dipaksakan. Kopi, dalam hal ini, adalah antitesis terhadap narasi heroik yang simplistik. Ia mengakui ambiguitas. Di satu sisi, secangkir latte senilai Rp 80.000 di kafe mewah Jakarta, di sisi lain petani kopi minum kopi dari biji cacat yang ditolak eksportir.
Tapi justru dalam ambiguitas ini, Derrida melihat harapan. Ia berbicara tentang “pusat yang tak terpusat”. Kopi adalah pusat yang tak terpusat itu, ia bisa menjadi ruang diskusi tentang keadilan iklim sekaligus tempat pelarian dari kesepian. Bagi seorang ayah yang bangkrut, menjual kopi gerobakan bukanlah “kebangkitan heroik”, melainkan strategi bertahan yang ambigu, ia masih terluka, tapi tetap bergerak. Di sini, kopi mengajarkan kita untuk menghidupi kontradiksi tanpa perlu menyelesaikannya.
Ketika Kopi Membongkar Ulang Narasi Luka
Pemberontakan yang terjadi seringkali melibatkan kopi didalamnya. Di sini, kopi didekonstruksi dari komoditas yang menindas pada era colonial menjadi alat rekonsiliasi identitas. Kopi menjadi sebuah identitas. Seperti Derrida yang melihat teks sebagai medan pertarungan, Kopi dijadikan sebagai ruang perlawanan terhadap takdir.
Derrida mungkin akan tertarik dengan cara kopi membebaskan makna. Kepahitan hidup bukanlah sesuatu yang harus dilawan atau diterima, tetapi dibaca ulang. Dekonstruksi mengajak kita untuk menggali celah-celah di antara oposisi biner, gagal vs sukses, kuat vs lemah. Kopi adalah guru yang diam-diam mengajarkan tentang hidup. Butuh kesabaran, penerimaan bahwa ada partikel kopi yang lolos dari saringan, dan pengakuan bahwa rasa terbaik sering lahir dari ketidaksempurnaan.
Jadi, jika kau sedang terpuruk, bertanyalah pada secangkir kopi: “Apa relasi biner yang perlu kuhancurkan hari ini?” Mungkin jawabannya ada dalam kepercayaan bahwa makna hidupmu masih bisa ditulis ulang, ditunda, dan dirayakan dalam ketidakpastian.
Seperti kata Derrida, “Setiap pembacaan adalah tindakan destruktif.” Maka, minumlah kopimu, lalu bacalah hidupmu dengan cara yang memberontak.
Penulis adalah Petani Kopi di Bandung Selatan, Pengamat Koperasi, Sosial dan aktifis ’98
Advertisement
