Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Politik Selalu Jadi Candu

Politik Selalu Jadi Candu

Pena Redaksi Minggu, 19 November 2023 16:10 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
politik

Advertisement

GAZANAPUBLIKA.COM – Politik kalau diam, mana serunya? Tidak ada manuver yang jadi pasif. Perseteruan itu sifatnya alamiah, bukan soal menang-kalah. Tidak penting logika menang-kalah. Tetapi efek konflik itu adalah lahirnya demokrasi. Konflik politik adalah sarana tumbuhnya demokrasi. Di situlah akan lahir kontrol sosial dan di situlah juga lahir kesimbangan antara kelompok yang bermain. Antara kelompok penekan dan kelompok yang menerima kekuasaan.

Pada substansinya, politik ada yang menyebutnya ‘art’ atau seni. Bisa juga disebut ‘game’. Tidak usah pakai perasaan menyikapinya. Rileks saja. Rakyat sebagai konstituen jangan terlalu larut dalam permainan politik. Dukung-mendukung itu biasa, namun kearifan politik ditempatkan di atas segala-galanya. Sama seperti elite politik. Yang namanya rakyat memiliki kewajaran apabila mengikuti perilaku elite. Sebab apabila rakyat terbawa arus, namanya rakyat jadi korban. Ya, kalau tidak mau menjadi korban, ikuti saja iramanya. Pasti menyenangkan.

Advertisement

Budaya politik rakyat dan elite itu berbeda. Kalau elite politik, orientasinya meraih kekuasaan dan kekayaan. Yang jadi barang jualan adalah aspirasi. Rakyat tidak seperti itu. Rakyat orientasinya hanya sebagai bahan obrolan di warung kopi. Untuk kepuasan sesaat dan obat tidur.

Rakyat berpartisipasi hanya untuk kewajiban sebagai warga negara, idealnya untuk memilih wakil di parlemen. Selesai kontestasi, rakyat kembali ke kandang untuk menikmati kehidupan normal.

Elite bisa saja berkonflik. Selesai pemilu, mereka semua menjadi teman bersenda gurau. Kabinet dibentuk berdasarkan kompromi. Ada oposisi, hanya untuk cari muka. Semua seremoni belaka. Lalu kemana rakyat setelah itu?

Rakyat sejatinya akan menjadi pemantau kebijakan, dan kalau jenuh, cukup menjadi penonton. Rakyat tidak pernah bosan belajar dari pengalaman mereka, dan setelah periode tertentu, mereka terkelabui lagi dan ikut ribut dalam setiap drama ini.

Advertisement

Pemilu Politik
Nusyogi

BERITA LAINNYA

Pena Redaksi

Ketika AFTA dan NAFTA Dibunuh oleh Politik Global: Refleksi atas Senjakala Integrasi Ekonomi Regional

Pena Redaksi

Rujuk Politik Lewat Pintu Samping

Pena Redaksi

Memahami Kembali Akar Masalah Terkait Revisi Undang-Undang Pilkada

Pena Redaksi

Menggugat Klaim Sejarah: Ancaman terhadap Identitas Kebangsaan Indonesia

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version