Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Siapa Bilang Orang Eropa Tidak Percaya Mistik? Inilah Nama-nama Mistiknya

Siapa Bilang Orang Eropa Tidak Percaya Mistik? Inilah Nama-nama Mistiknya

Ragam Minggu, 10 Agustus 2025 0:58 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Sumber Foto: roselinde-me.translate.goog

Advertisement

GazanaPublika.com – Meskipun Eropa kerap diasosiasikan dengan rasionalisme dan kemajuan saintifik, praktik-praktik mistik tradisional seperti sihir, ritual pagan, dan penggunaan jimat masih bertahan hingga kini. Tradisi-tradisi tersebut, terutama di wilayah pedesaan atau komunitas tertentu, tetap hidup sebagai warisan leluhur yang dijaga dengan teguh. Beberapa contohnya mencerminkan keragaman bentuk mistik di berbagai kawasan:

Di Inggris dan Skotlandia, terdapat komunitas yang mengidentifikasi diri sebagai modern witches atau penganut Wicca. Mereka masih menjalankan ritual-ritual bulan purnama, membaca mantra, dan mempraktikkan sihir herbal sebagai bagian dari spiritualitas alam.

Advertisement

Di Jerman dan Austria, simbol hex sign—pola geometris yang diyakini membawa perlindungan atau keberuntungan—masih dilukis di dinding rumah atau lumbung. Tradisi ini juga bertahan di kalangan keturunan Jerman-Amerika di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Di Islandia, kepercayaan terhadap hidden people (makhluk tak kasatmata) begitu kuat, hingga proyek pembangunan jalan tol pernah dialihkan untuk menghindari gangguan terhadap lokasi yang dianggap keramat atau “dihuni” oleh mereka.

Di Prancis dan Italia, praktik seperti astrologi, pembacaan tarot, ramalan nasib, dan energy healing kian populer, terutama di kalangan urban yang mencari bentuk spiritualitas di luar agama formal.
Survei menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Eropa hidup dalam era modern dan ilmiah, kepercayaan terhadap hal-hal supranatural masih cukup tinggi.

Laporan Pew Research tahun 2018 mencatat bahwa sekitar 40–50% warga Eropa mempercayai keberadaan kekuatan spiritual di luar agama resmi—termasuk roh leluhur, takdir, atau energi gaib.
Bahkan di negara-negara Katolik seperti Italia dan Spanyol, praktik eksorsisme (pengusiran roh jahat) masih dilakukan oleh institusi gereja secara resmi dan dianggap sebagai bagian dari pelayanan iman.

Di kalangan generasi muda Eropa, muncul tren spiritualitas baru seperti mistisisme New Age, meditasi energi, manifestasi keinginan melalui lilin atau kristal, yang sesungguhnya merupakan adaptasi modern dari praktik mistik kuno.

Selama ini, ketika membicarakan ilmu gaib atau praktik supranatural, banyak orang cenderung mengaitkannya dengan dunia Timur—terutama Indonesia dengan kekayaan tradisinya seperti santet, teluh, pelet, ajian brajamusti, rawa rontek, hingga susuk. Namun siapa sangka, Eropa yang dikenal sebagai pusat rasionalisme dan pencerahan ternyata juga menyimpan sejarah panjang praktik okultisme dan ilmu gaib yang kompleks serta berakar kuat dalam budaya masyarakatnya.

Meskipun istilah, wujud, dan ritualnya berbeda, fungsi serta tujuan praktik mistik di Eropa sering kali sepadan dengan ajian-ajian tradisional Nusantara—baik dalam hal perlindungan, penyembuhan, pengaruh batin, hingga pencapaian spiritual.

Berikut adalah jenis-jenis ilmu gaib khas Eropa:

1. Witchcraft (Sihir Penyihir / Dukun Tradisional Eropa)

Di Eropa, terutama di Inggris, Skotlandia, Jerman, dan Prancis, sihir rakyat atau witchcraft adalah praktik yang sangat tua. Dalam bentuknya yang paling mirip dengan santet dan pelet, witchcraft digunakan untuk menyakiti musuh (maleficia) atau untuk memikat cinta.
Praktiknya mencakup:

BACA JUGA:  Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

• Penggunaan boneka lilin atau kain (poppet) untuk menyakiti atau menyembuhkan orang dari jarak jauh.
• Love spells atau mantra cinta, untuk menundukkan seseorang agar jatuh cinta.
• Penggunaan jimat, ramuan herbal, mantra, dan media pribadi (seperti rambut atau pakaian).

Sama seperti di Indonesia, para pelakunya sering disebut wise woman, cunning folk, atau dukun lokal yang juga melakukan penyembuhan spiritual.

2. Grimoire Magic (Kitab-Kitab Ilmu Magis)

Jika Indonesia mengenal kitab-kitab ajian kuno atau ilmu hikmah, Eropa memiliki grimoire—yaitu buku-buku sihir kuno berisi panduan memanggil roh, mengikat iblis, atau menciptakan pelindung magis.
Beberapa grimoire paling terkenal:

• The Key of Solomon – disebut-sebut sebagai kitab Nabi Sulaiman versi Yahudi-Kristen.
• The Lesser Key of Solomon (Goetia) – manual pemanggilan 72 roh neraka untuk kekayaan dan kekuasaan.
• The Book of Abramelin – digunakan untuk memanggil malaikat pribadi dan menaklukkan setan.

Grimoire ini sebanding dengan ajian waringin sungsang (untuk perlindungan tubuh), ilmu pelaris dagang, bahkan susuk pengasihan.

3. Druidic Magic

Di wilayah Keltik (Irlandia, Skotlandia, Wales), para druid dikenal sebagai pendeta-pendeta mistik yang menggunakan kekuatan alam untuk ritual spiritual.
Mereka memuja:

• Pohon keramat (oak, yew), bulan, dan matahari.
• Melakukan ritual cuaca, berkah pertanian, hingga kutukan musuh.

Ilmu ini mirip dengan pemujaan pohon keramat di Jawa, atau ajian kekebalan yang berbasis alam dan leluhur.

4. Hexerei dan Braucherei (Mistik Jermanik)

Di Jerman, sihir dibagi menjadi dua:
• Hexerei: sihir jahat untuk mencelakai (sama seperti santet).
• Braucherei: sihir penyembuhan atau pelindung.

Dalam praktiknya, dikenal penggunaan:

• Simbol-simbol pelindung (hex signs) yang digambar di rumah.
• Mantra cinta menggunakan darah, rambut, atau pakaian, sepadan dengan ilmu pelet lewat media pribadi di Indonesia.

5. Runic Magic (Sihir Runa Nordik)

Bangsa Skandinavia seperti Norwegia, Islandia, dan Swedia menggunakan runes—huruf-huruf kuno Nordik—sebagai media magis.

Penggunaannya antara lain untuk:
• Membuat jimat pelindung (runa Algiz).
• Memikat cinta (runa Gebo).
• Meningkatkan kekuatan dan keberanian (runa Tiwaz).

Huruf-huruf ini diukir di batu, kayu, logam, bahkan senjata. Secara fungsi mirip rajah pada senjata pusaka atau susuk tubuh.

6. Alchemy dan Ilmu Gaib Filosofis

Alkimia di Eropa tidak hanya soal mengubah logam menjadi emas, tetapi juga:

  1. • Menciptakan eliksir cinta (love potion).
    • Menemukan ilmu awet muda dan kekebalan tubuh.
    • Mencapai transformasi spiritual ala tasawuf.

Alkimiawan seperti Paracelsus atau Nicholas Flamel bahkan digambarkan seperti tokoh spiritual sakti yang memiliki ilmu gaib tingkat tinggi—mirip dengan sosok empu atau kiai sakti dalam tradisi Indonesia.

Jika kita bandingkan lebih dekat, sebenarnya terdapat banyak persamaan antara tradisi mistik yang berkembang di Eropa dan di Nusantara, meskipun mereka berasal dari latar budaya, bahasa, dan sejarah yang sangat berbeda. Misalnya, apa yang dikenal di Indonesia sebagai santet atau teluh, yaitu praktik sihir untuk mencelakai seseorang dari jarak jauh, memiliki padanan yang cukup mirip di Eropa berupa curse spells, hexerei, atau penggunaan poppet magic—yakni boneka yang digunakan untuk mengirim niat jahat kepada seseorang.

BACA JUGA:  Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Begitu pula dengan pelet atau ilmu pengasihan, yang di Indonesia sering digunakan untuk memikat atau menundukkan hati seseorang, memiliki kemiripan dengan love spells di Eropa. Di beberapa wilayah seperti Jerman, bahkan dikenal blood charms—mantra cinta yang melibatkan darah, atau elixir of love, ramuan yang dipercaya bisa membuat seseorang jatuh cinta, serupa dengan ‘susuk cinta’ dalam kepercayaan lokal.

Ilmu-ilmu seperti ajian kekebalan tubuh di Nusantara juga punya padanan dalam praktik rune magic di wilayah Skandinavia. Runa tertentu dipercaya memberikan perlindungan spiritual dan fisik, layaknya jimat atau rajah tubuh yang banyak digunakan dalam budaya Indonesia untuk menambah kekuatan atau menjaga diri dari bahaya.

Praktik susuk, yaitu memasukkan logam atau benda bertuah ke dalam tubuh untuk tujuan kecantikan atau pesona, bisa disejajarkan dengan penggunaan rune tattoo, sigil engraving, atau charm object dalam tradisi sihir Eropa. Mereka sama-sama mengandalkan simbol-simbol yang diyakini membawa kekuatan magis dan pengaruh terhadap energi tubuh.

Ajian yang memanfaatkan benda pribadi—seperti rambut, pakaian, atau foto orang yang dituju—juga dikenal dalam sihir cinta Jermanik, di mana benda-benda milik target digunakan sebagai media magis untuk mempengaruhi perasaan atau pikiran. Dan dalam konteks ilmu pelaris, yang di Indonesia sering diasosiasikan dengan peningkatan daya tarik usaha atau dagangan, praktik serupa ditemukan dalam ritual kemakmuran dalam alkimia atau grimoire Eropa, yang bertujuan untuk menarik rezeki dan keberuntungan melalui mantra dan simbol.

Bahkan pemujaan terhadap unsur-unsur alam seperti pohon besar, gunung, atau tempat keramat yang kerap ditemui dalam tradisi kejawen atau Bali, ternyata juga memiliki kesejajaran dengan pemujaan alam dalam tradisi Druidic di wilayah Keltik, di mana pohon suci dan lokasi alam tertentu dianggap sebagai tempat spiritual yang sakral.

Dengan kata lain, meskipun istilah dan penampilan luar dari praktik-praktik ini berbeda, sebenarnya di balik itu semua tersimpan kerinduan manusia terhadap hal-hal yang tak terlihat—entah itu kekuatan alam, roh leluhur, atau energi spiritual. Baik dalam bentuk mantra, simbol, jimat, atau ritual, praktik-praktik ini mencerminkan sisi magis dari manusia yang ingin memahami dan mengendalikan cinta, nasib, kekuasaan, dan kesehatan melalui jalur yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika semata.

Praktik mistik dan kepercayaan terhadap hal-hal gaib di Eropa masih ada hingga hari ini, meskipun tampilannya sudah berubah dan sering kali tersembunyi di balik budaya modern, gerakan spiritual baru, atau sekadar dianggap bagian dari tradisi dan seni.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Ragam

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

BERITA TERBARU

Hudi Nurhudiyat: Menguatkan Kearifan Lokal dan Tasawuf

Majelis Al Ma’arijul Wathon Bahas Kekeliruan Kebatinan, Tekankan Integrasi Syariat dan Hakikat

Prabowo Ungkap Alasan Koalisi Gemuk: Indonesia Sebesar Eropa, tapi Hanya Punya Satu Kabinet

KPK Surati Panglima TNI soal Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Korupsi Dana Bencana BNPB

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version