Advertisement
GazanaPublika.com – Wabah flu burung H5 yang sedang melanda Amerika Serikat kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya menyerang burung dan unggas, virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 kini telah terdeteksi pada 23 spesies mamalia, termasuk kucing domestik, menurut laporan terbaru dari Departemen Pertanian AS yang diperbarui pada Selasa (13/8/2024).
Mamalia yang terinfeksi mencakup berbagai spesies seperti tikus rusa, rakun, rubah merah, singa gunung, beruang hitam, hingga hewan peliharaan seperti kucing rumah. Penyebaran virus ini pada spesies non-unggas menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan hewan dan masyarakat luas.
Advertisement
Kristen Coleman, seorang assistant professor di School of Public Health di University of Maryland, dalam wawancara dengan outlet berita universitas, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus infeksi flu burung pada kucing domestik mulai terlihat sejak awal 2023. “Kami mencatat peningkatan drastis dalam laporan infeksi H5N1 pada kucing peliharaan, yang menunjukkan bahwa virus ini mungkin mengalami adaptasi atau mutasi yang memungkinkannya menular ke spesies yang sebelumnya tidak terpengaruh,” kata Coleman.
Penelitian yang dilakukan Coleman dan timnya menunjukkan bahwa meskipun flu burung H5N1 saat ini tidak menular antar manusia, perubahan dalam pola penyebaran virus ini bisa menjadi ancaman potensial di masa depan. “Kucing domestik, sebagai hewan peliharaan yang sering berinteraksi dengan manusia, dapat menjadi jalur potensial bagi penyebaran virus ini ke manusia,” tambahnya.
Lebih mengejutkan lagi, H5N1 yang biasanya menyerang burung liar dan unggas, pada akhir tahun lalu ditemukan pada sapi perah di AS. Sejak saat itu, virus ini menyebar ke berbagai spesies hewan lainnya. Colorado menjadi salah satu daerah dengan kasus H5N1 yang signifikan pada kucing domestik, dengan enam kasus yang terdeteksi sepanjang tahun ini.
Dokter hewan Kay Russo, yang berbasis di Colorado dan telah menangani sejumlah kasus terkait, menyatakan kekhawatirannya terhadap pergerakan virus yang cepat dan mematikan ini. “Risiko penularan ke manusia akibat kontak dengan kucing belum dipahami dengan baik, namun dengan lonjakan kasus yang ada, tingkat kekhawatiran meningkat,” kata Russo.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS terus menyatakan bahwa risiko terhadap masyarakat umum tetap rendah. Namun, peringatan tetap disampaikan kepada mereka yang memiliki kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, termasuk kucing.
Perkembangan ini menandakan bahwa wabah flu burung H5 bukan hanya ancaman bagi industri unggas tetapi juga bagi populasi mamalia yang lebih luas, termasuk hewan peliharaan. Seiring dengan penyebaran virus yang terus meluas, upaya penanggulangan dan penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami risiko dan mencegah potensi pandemi di masa depan.
Sumber: Antaranews.com
Advertisement
