Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Nafsiyah: Menuju Kekuatan Mental

Nafsiyah: Menuju Kekuatan Mental

Tasawuf Elegan Senin, 26 Februari 2024 18:23 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Sumber: https://pgsp.big.go.id/pendidikan-karakter-tni-angkatan-laut/

Advertisement

GazanaPublika.com – Dalam tarekat Syadzliah, tidak dikenal praktik tazkiatun nafsi (penyucian jiwa) sebagaimana yang dikenal oleh kelompok-kelompok tertentu, baik dalam tarekat maupun di luar tarekat. Dalam istilahnya, praktik tarekat Syadziliyah tidak melibatkan proses “insan kamil” (salah satu cabang tasawuf), karena proses ini dianggap eksklusif dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, ada golongan tasawuf yang mengamalkannya, di antaranya dalam kelompok insan kamil.

Tarekat Syadziliyah menekankan bahwa perjalanan menuju Allah tidak selalu melibatkan proses penyucian diri, melainkan bisa mencakup pembersihan diri. Bagi penganut Syadziliyah, memberi label penyucian diri dianggap berisiko, karena ada kekhawatiran bahwa para salik (orang yang melakukan perjalanan spiritual) akan menganggap diri mereka telah mencapai kesucian. Anggapan diri yang telah suci dianggap sangat berbahaya dalam keimanan bagi seorang salik atau penganut tasawuf. Oleh karena itu, tarekat Syadziliyah mengambil posisi yang moderat dan elegan, yaitu berfokus pada konsep pembersihan diri.

Advertisement

Namun, Nafsiyah atau pendidikan nafsi (jiwa) tidak berawal dari pencucian diri atau pembersihan diri, melainkan lebih terfokus pada pendidikan mental agar para salik memiliki ketangguhan mental. Fenomena yang sering terlihat menunjukkan bahwa seseorang dengan mental lemah cenderung berakhir dengan kehancuran keimanan, seperti kasus bunuh diri. Tindakan bunuh diri seringkali disebabkan oleh kelemahan mental yang berdampak pada keimanan yang lemah kepada Allah Swt.

Dalam tinjauan yang lebih mendalam, tujuan pendidikan nafsiyah ini adalah agar para salik memiliki mental yang kuat, sehingga mental tersebut benar-benar berada dalam kondisi “qiyam” atau selalu tegak, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika berhadapan dengan Allah.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seorang salik diharapkan memiliki mental baja dan tidak boleh cengeng. Dari perspektif ini, pendidikan nafsiyah sangat terkait dan dapat dibandingkan dengan berbagai bentuk pendidikan mental lainnya, seperti yang diterapkan dalam ilmu pencak silat, ilmu kemiliteran, ilmu evakuasi, pencinta alam, ilmu security, dan sebagainya.

Dalam pendidikan-pendidikan tersebut, telah dijelaskan bahwa pendidikan mental terkait dengan penggolokan (Sunda: gojlog) fisik. Penggojokan fisik ini mencakup latihan seperti olahraga dan penguatan mental melalui gerakan fisik. Seorang salik harus bersiap untuk mengalami tempaan fisik agar mentalnya menjadi kuat, karena sebenarnya fisik berkaitan erat dengan mental.

Sebagai contoh, ketika seseorang berjalan di siang hari dan terkena sorotan sinar matahari yang panas, hal tersebut dapat mempengaruhi keadaan mentalnya. Dalam situasi tersebut, seseorang yang tidak kuat mental mungkin akan mengeluh dan mengatakan dalam hatinya “duh, panas.” Tindakan seperti itu sebenarnya mencerminkan ke-“fasad”an atau kerusakan dalam praktek tasawufnya.

Beberapa sifat manusia yang berkaitan dengan mental dan dapat merusak keimanan antara lain: amarah, mengeluh, tidak sabar, cengeng, tergesa-gesa, bimbang, kurang keyakinan, tidak memiliki prinsip, frustasi, cemas, rasa takut, galau, hampa, dan sebagainya. Melalui pendidikan nafsiyah, semua itu dapat diatasi, dan keberadaan mental akan menjadi lebih kokoh dan tegar dalam berbagai situasi.

Oleh karena itu, nafsiyah dapat meningkatkan kesabaran, rasa syukur, dan istiqamah dalam menghadapi hidup. Menghadapi Allah memerlukan kesiapan mental, dan semuanya dapat tercermin dalam kehidupan seseorang saat menghadapi tantangan sosial dan alam.

Nafsiyah merupakan suatu pendidikan yang tidak melibatkan akal dan tidak perlu dicerna atau dipahami. Namun, salik lebih mengutamakan untuk mengikuti prosesnya saja.

Penulis:
Ki Banjar Agung

Advertisement

Tarekat Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version