Advertisement
GazanaPublika.com, Serang — Dilihat dari Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani, megahnya bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Banten berdiri begitu meyakinkan. Arsitektur modern berstandar fasilitas kesehatan Kelas B itu menyiratkan pesan tentang profesionalisme dan kesiapan melayani masyarakat. Namun, kerapian di bagian luar tersebut menyembunyikan cerita yang amat kontras ketika melangkah lebih dalam ke ruang rawat inap.
Di Lantai 4 Gedung Garuda, cermin kelalaian pemeliharaan sarana terlihat begitu telanjang. Seluruh pintu toilet di area perawatan medis tersebut ditemukan dalam kondisi rusak pada fungsi kuncinya. Gagang dan slot pintu memang terpasang, tetapi mekanisme kuncinya sama sekali tidak bisa difungsikan.
Advertisement
Kondisi ini seketika merenggut hak privasi dan martabat pasien beserta keluarga yang mendampingi. Setiap kali hendak menggunakan fasilitas sanitasi, pasien dipaksa merasuki rasa cemas karena pintu toilet bisa terdorong atau terbuka secara tiba-tiba dari luar. Ruang yang seharusnya memberikan rasa aman di tengah proses pemulihan justru menjadi sumber ketidaknyamanan baru akibat tiadanya kontrol kualitas harian dari pengelola gedung.
Masalah tidak berhenti pada urusan privasi. Di dalam toilet tempat pasien rawat inap beraktivitas, aspek keselamatan medis dasar terabaikan secara kasat mata. Tidak ada satu pun tiang atau gantungan khusus yang disediakan untuk menopang botol cairan infus.
Akibat ketiadaan tiang tersebut, pasien yang terpasang selang infus harus bersusah payah memegang sendiri kantong cairannya saat buang air, atau terpaksa meletakkannya di area seadanya yang berisiko terpapar kuman. Secara medis, situasi ini menyimpan bahaya nyata. Posisi kantong infus yang sejajar atau lebih rendah dari titik tusukan jarum akibat tidak adanya gantungan memicu risiko *backflow*—aliran darah pasien yang mengalir balik ke dalam selang—yang berpotensi menimbulkan gumpalan darah hingga trauma pembuluh darah.
Kontras yang tajam antara megahnya fisik gedung dan terabaikannya fasilitas vital di Gedung Garuda ini menegaskan adanya jurang lebar antara janji pelayanan rumah sakit rujukan dan realitas pemeliharaan di lapangan. Tanpa pembenahan manajemen sarana secara menyeluruh, keindahan arsitektur gedung hanyalah ilusi yang gagal memberikan rasa aman dan keselamatan hakiki bagi para pasiennya.
Fenomena tersebut hanyalah puncak gunung es yang muncul ke permukaan tentang lemah manajemen dari segudang persoalan yang belum terungkap. Semua perlu perhatian dan pembenahan, janganlah menjadi image ‘maklumilah fasilitas pemerintah.’ (Red).
Advertisement
