Advertisement
JAKARTA, GAZANAPUBLIKA.COM – Kedua kubu dari tim sukses calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) dalam Pilpres 2024 kembali adu klaim jadi pewaris program-program kerja Presiden Jokowi.
Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran adalah dua kubu yang saling klaim tersebut.
Advertisement
Sebelum penetapan capres-cawapres oleh KPU RI, persaingan klaim ini sudah mencuat.
Meskipun belakangan, kubu TPN Ganjar-Mahfud yang didominasi oleh politisi PDIP tampaknya ingin menjauh dari citra yang terlalu terikat dengan Jokowi.
Namun, pekan ini, TPN Ganjar-Mahfud kembali menggambarkan dirinya sebagai pewaris dari Jokowi.
Sementara itu, TKN Prabowo-Gibran memastikan bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang layak meneruskan jejak Jokowi..
Saling klaim dua kubu seperti apa, simak berikut ini, Sabtu (16/12/2023):
A. Klaim TPN Ganjar, Penerus Jokowi
Sekretaris TPN Ganjar-Mahfud yang juga Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto, yakin bahwa Presiden Jokowi akan turut membantu dalam pemenangan Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, di Pilpres 2024.
Menurutnya, indikasi tersebut bisa terlihat setelah debat capres, di mana Kepala Negara langsung melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah.
Selain itu, saat Ganjar memulai kampanye di Merauke dan dilanjutkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Jokowi pun mengikuti jejak Ganjar dengan melakukan kunjungan ke daerah tersebut.
“Yaitu Pak Jokowi membantu Pak Ganjar, Pak Jokowi di belakang Pak Ganjar. Ketika Pak Ganjar di NTT kemudian Pak Jokowi ke NTT, itu kan artinya rakyat melihat Pak Jokowi di belakang Pak Ganjar,” kata Hasto kepada wartawan, Jumat (15/12/2023) dikutip dari Kompas.TV.
Hasto menyatakan bahwa tidak hanya itu, Presiden Jokowi sekarang memberikan izin kepada petani untuk membeli pupuk dengan menggunakan KTP. Ini selaras dengan program yang diusung oleh Ganjar, yaitu KTP Sakti.
Dengan demikian, pasangan Ganjar dan Mahfud MD dianggap sebagai figur yang akan melanjutkan kepemimpinan Presiden Jokowi untuk lima tahun mendatang.
“Bahkan dari polling yang kami lakukan, mencermati seluruh pemberitaan suara-suara dari rakyat di dalam debat kemarin menunjukan bahwa Pak Prabowo bukanlah Pak Jokowi. Itu Pak Prabowo tampil pada jati dirinya yang selama ini mencoba dipoles dengan gemoy. Tetapi debat telah mengembalikan suatu karakter asli dari Pak Prabowo. Sehingga Pak Prabowo bukanlah Pak Jokowi,” katanya.
B. Klaim TKN Prabowo-Gibran, Penerus Jokowi
Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, yang juga merupakan petinggi Partai Golkar, Nusron Wahid, mengklaim bahwa hanya Prabowo-Gibran yang berpotensi menjadi penerus kepemimpinan Presiden Jokowi.
Pernyataan ini menepis pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan atau PDIP Hasto Kristiyanto yang menyatakan bahwa Presiden Jokowi mendukung pemenangan Ganjar.
“Tidak hanya Pak Prabowo. Pak Anies dan Pak Ganjar juga bukan Pak Jokowi. Karena tidak mungkin ada Jokowi kembar. Tapi bisa dipastikan bahwa Pak Prabowo adalah penerus Pak Jokowi, satu-satunya paslon yang berkomitmen melanjutkan kebijakan dan program Pak Presiden Jokowi,” kata Nusron kepada wartawan, Jumat (15/12/2023).
Politikus Partai Golkar itu menjelaskan bahwa komitmen tersebut dapat dilihat dari visi dan misi yang dimiliki oleh Prabowo dan Gibran.
“Kita berkomitmen melanjutkan semua program yang bermanfaat bagi masyarakat, mulai dari KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar), KIP Kuliah, PKH (Program Keluarga Harapan), bantuan sosial, semua akan dilanjutkan dan ditingkatkan.”
“Ini kemudian ditambah dengan Program Makan Siang dan Susu Gratis serta Bantuan Gizi,” katanya.
Menanggapi pernyataan Hasto yang menyatakan bahwa Presiden Jokowi mendukung Ganjar, Nusron menegaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Jokowi tidak bersedia menjadi anggota partai seperti Ganjar.
“Sudah pasti beda antara Mas Ganjar dengan Pak Pak Jokowi. Karena Pak Jokowi menjabat Presiden tidak bersedia menjadi petugas partai. Sementara Mas Ganjar baru dicalonkan sudah menyatakan diri siap jadi petugas partai.”
“Mungkin itu juga sebabnya Pak Jokowi mendorong Prabowo-Gibran, karena tak cocok dengan konsep Presiden dijadikan alat dan petugas partai politik,” katanya.
Namun demikian, Nusron menyatakan bahwa dia tidak menganggap sebagai masalah jika Hasto mengklaim bahwa Presiden Jokowi mendukung Ganjar dalam konteks pesta demokrasi.
“Silakan saja kalau Pak Hasto mau klaim bahwa Pak Jokowi di belakang Mas Ganjar. Tapi di sini (Prabowo-Gibran) jelas adalah fakta, bukan klaim. Itu terlihat dari visi, misi, dan program. Apalagi kita disini bersama Mas Gibran,” katanya.
“Dalam peristiwa hampir dua bulan ini sudah kelihatan. Siapa yang tegak lurus, dan siapa yang justru menyudutkan dan tak henti-hentinya menyerang Pak Jokowi. Masyarakat sudah cerdas,” ujarnya.
Ia mendorong agar masyarakat Indonesia tetap bersatu tanpa terpecah belah dalam menghadapi Pilpres 2024. Menurutnya, pesta demokrasi ini seharusnya dihadapi dengan suasana riang dan gembira.
“Kembali lagi ke Gemoy, Mas Bowo ini memang gemoy dan lincah. Pemilu harus dibawa riang gembira karena ini pesta rakyat. Asyik kan,” katanya. (Sumber: Tribunnews.com/Kompas.TV)
Advertisement
