Advertisement
GazanaPublika.com, Gaza – Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Jalur Gaza. Sejak pusat distribusi bantuan yang didukung Amerika Serikat dan Israel mulai beroperasi empat pekan lalu, sedikitnya 549 warga Palestina dilaporkan tewas tertembak saat berusaha mendapatkan bantuan pangan. Informasi itu dirilis secara resmi oleh Kantor Media Pemerintah Gaza, seperti dikutip Al Jazeera pada Kamis (26/6/2025).
Menurut laporan tersebut, para korban tidak hanya tewas di tengah antrean makanan, tetapi juga menjadi sasaran sistematis dalam skema yang disebut sebagai “perangkap kematian”. Jumlah korban luka telah mencapai 4.066 orang, dan 39 lainnya dilaporkan hilang, memperparah derita rakyat sipil yang telah kelaparan berbulan-bulan akibat blokade dan gempuran yang tiada henti.
Kantor media menyebutkan bahwa pusat bantuan yang semestinya menjadi titik harapan, justru berubah menjadi ajang pembantaian. “Pendudukan Israel menggunakan bantuan makanan sebagai senjata pembunuh massal,” ujar pernyataan resmi mereka, menuding militer Israel menembaki warga sipil secara rutin, bahkan berdasarkan ‘jadwal penembakan yang ditetapkan.’
Komentar keras juga datang dari Sami Al-Arian, Direktur Pusat Islam dan Urusan Global di Universitas Zaim, Istanbul. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menyebut peristiwa itu sebagai ‘parodi kemanusiaan dan skandal global.’
Ia menegaskan, “Setiap hari orang-orang mendatangi lokasi bantuan hanya untuk pulang dengan luka atau tak pernah kembali sama sekali. Mereka hanya ingin memberi makan anak-anak mereka.”
Lebih lanjut, media internasional seperti The Guardian dan Middle East Eye juga menyoroti kejadian ini sebagai indikasi semakin parahnya krisis kemanusiaan di Gaza, di mana bantuan kemanusiaan kini menjadi alat kendali dan dominasi politik. Human Rights Watch dan Amnesty International disebut telah menyerukan penyelidikan mendesak oleh komunitas internasional atas insiden ini.
Advertisement
