Advertisement
GazanaPublika.com – Beirut – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis dengan ledakan besar yang mengguncang Lebanon pada Selasa, 17 September 2024. Ratusan pager meledak secara bersamaan, menewaskan sembilan orang dan melukai sekitar 2.800 lainnya, dengan 200 di antaranya dalam kondisi kritis. Ledakan ini memicu kepanikan yang meluas di ibu kota Beirut, di mana rumah sakit mengalami kesulitan dalam menangani jumlah korban yang begitu besar.
Duta Besar Iran untuk Lebanon, Mojtaba Amani, juga turut menjadi korban dari insiden ini, namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Iran mengenai kejadian tersebut. Hizbullah, kelompok bersenjata yang memiliki pengaruh besar di Lebanon, langsung menuding Israel sebagai pelaku ledakan. Hizbullah menyebut Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini, menyusul konflik yang berkepanjangan antara Israel dan kelompok militan tersebut yang dimulai setelah serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023.
Advertisement
Hizbullah menegaskan bahwa “musuh Israel” sepenuhnya bertanggung jawab atas serangan ini dan mengancam bahwa Israel akan menghadapi hukuman yang setimpal. Pernyataan tersebut menambah ketegangan yang sudah ada di kawasan tersebut, yang telah terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan banyak pihak yang terlibat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan perluasan tujuan perang, yang kini mencakup serangan terhadap Hizbullah di sepanjang perbatasan utara Israel. Netanyahu mengklaim bahwa langkah ini diambil untuk memulangkan penduduk yang terpaksa dievakuasi dari Israel utara akibat serangan lintas batas oleh Hizbullah. Netanyahu menyatakan, “Kabinet politik-keamanan memperbarui tujuan perang untuk termasuk pemulangan penduduk utara dengan aman ke rumah mereka.”
Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi yang terjadi, menyebut situasi ini sebagai “sangat memprihatinkan.” Ia menyerukan agar semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk konflik dan memicu krisis yang lebih besar.
Dampak dari ketegangan ini juga terasa di sektor penerbangan. Maskapai penerbangan Eropa, termasuk Lufthansa dan Air France, telah memutuskan untuk menangguhkan penerbangan ke dan dari Tel Aviv, Teheran, dan Beirut hingga 19 September 2024. Pihak Lufthansa mengumumkan bahwa “karena perubahan situasi keamanan baru-baru ini, Lufthansa Group, yang mencakup SWISS, Austrian Airlines, dan Brussels Airlines, memutuskan untuk menangguhkan semua koneksi ke dan dari Tel Aviv dan Teheran.”
Air France juga mengambil langkah serupa, menangguhkan penerbangan dari Paris-Charles de Gaulle ke Beirut dan Tel Aviv. Maskapai ini menyebut keselamatan pelanggan dan kru sebagai prioritas utama mereka. “Kami akan terus memantau situasi keamanan hingga kondisi dianggap aman untuk penerbangan,” kata Air France dalam pernyataan resminya.
Israel, meskipun dituduh oleh Hizbullah dan Menteri Informasi Lebanon Ziad Makary, belum memberikan komentar resmi mengenai tuduhan tersebut. Sebelumnya, Israel telah dituduh menggunakan bahan peledak untuk menargetkan musuh, yang menambah kompleksitas situasi yang sudah tegang ini.
Sumber: CNBCIndonesia.com
Advertisement
