Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Pigai Desak Polisi Ungkap Teror terhadap Aktivis dan Influencer Pengkritik Penanganan Bencana

Pigai Desak Polisi Ungkap Teror terhadap Aktivis dan Influencer Pengkritik Penanganan Bencana

Nasional Jumat, 2 Januari 2026 21:48 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta – Rentetan aksi teror yang menimpa sejumlah aktivis dan influencer media sosial setelah mereka melontarkan kritik terhadap penanganan banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera, kini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai secara terbuka meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut hingga motif dan pelakunya terungkap.

Pigai menegaskan bahwa teror, dalam bentuk apa pun, tidak dapat dibenarkan dalam iklim demokrasi. Ia menilai, tindakan intimidatif justru mencederai prinsip dasar negara hukum yang menjamin keamanan setiap warga negara dalam menyampaikan pendapat.

Advertisement

“Terkait maraknya teror yang menimpa influencer, saya minta kepada aparat kepolisian untuk mengusut secara tuntas agar diketahui apa motif dan siapa pelakunya,” ujar Pigai, Jumat (2/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Pigai di tengah meningkatnya kekhawatiran publik atas keselamatan para pengkritik kebijakan pemerintah, khususnya mereka yang vokal menyoroti penanganan bencana alam di wilayah utara Sumatera pada akhir November 2025.

Surplus Demokrasi dan Batas Tanggung Jawab

Di satu sisi, Pigai mengapresiasi keberanian publik—termasuk para influencer—yang memanfaatkan ruang kebebasan berpendapat untuk menyampaikan kritik. Menurutnya, Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang ia sebut sebagai surplus demokrasi.

“Saat ini kita menikmati surplus demokrasi, yakni hak berpendapat atas pikiran dan perasaan yang dijamin tanpa adanya protokol lalu lintas. Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut,” kata Pigai.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa kebebasan tersebut tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab moral dan etika. Dalam praktiknya, Pigai menilai kritik kerap bergeser menjadi serangan terhadap kehormatan individu atau institusi, bahkan tidak jarang dibungkus dalam narasi yang emosional dan spekulatif.

BACA JUGA:  Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Pigai menyinggung kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk membangun citra sebagai korban (playing victim), demi mendongkrak popularitas, jumlah pengikut, atau pelanggan kanal media sosial mereka.

Peringatan atas Framing Tanpa Bukti

Lebih jauh, Pigai meminta agar kritik terhadap penanganan bencana tidak serta-merta membingkai pemerintah sebagai pihak yang bersalah, terlebih tanpa dasar hukum dan bukti yang sah. Menurutnya, hingga kini tidak ada kesimpulan resmi yang menyatakan adanya pihak tertentu yang bertanggung jawab secara langsung atas terjadinya bencana alam tersebut.

Ia menilai kebebasan berpendapat sering kali disertai praktik penggiringan opini yang problematis, mulai dari serangan pribadi (ad hominem), manipulasi emosi publik, generalisasi berlebihan, hingga pengaburan hubungan sebab-akibat.

Oleh karena itu, Pigai mengajak masyarakat untuk tetap bersikap rasional dan objektif dalam mengonsumsi serta menyebarkan informasi, khususnya di media sosial yang kerap menjadi ruang subur bagi disinformasi.

Klaim Keseriusan Pemerintah Tangani Bencana

Terkait penanganan bencana di Sumatera, Pigai menegaskan bahwa pemerintah telah menunjukkan keseriusan melalui langkah-langkah yang sistematis dan terencana. Ia menyebut penanganan dilakukan dalam dua fase utama, yakni tahap tanggap darurat dan tahap pemulihan melalui pembangunan infrastruktur.

“Semua orang tentu tahu dan telah menyaksikan bahwa hampir setiap minggu Presiden datang ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya, dilansir Antara.

Pigai menolak keras narasi yang menyudutkan pemerintah sebagai dalang teror terhadap para pengkritik. Menurutnya, apabila memang terbukti terjadi aksi teror, pelakunya bukanlah negara maupun aktor pemerintah.

BACA JUGA:  Gugatan Praperadilan Roy Suryo Ditolak PN Jaksel, Hakim Menilai Ada Penyalahgunaan Prosedur Hukum

Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap menghormati sikap kritis siapa pun, termasuk para influencer, selama kritik disampaikan secara bertanggung jawab, berbasis data, dan tidak dimanipulasi demi kepentingan popularitas semata.

Teror yang Menimpa Aktivis dan Influencer

Sebelumnya, sejumlah influencer mengaku menjadi sasaran intimidasi setelah mengkritik penanganan bencana di Sumatera. Di antaranya DJ Donny—yang memiliki nama asli Ramon Dony Adam—Sherly Annavita, dan Chiki Fawzi.

DJ Donny melaporkan bahwa teror terhadap dirinya terjadi sebanyak dua kali. Insiden pertama berupa pengiriman bangkai ayam ke rumahnya, disusul aksi pelemparan bom molotov yang terekam kamera pengawas pada dini hari.

“Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu, semalam jam 3.00 WIB, di CCTV (kamera pengawas) terekam orang melempar molotov ke rumah saya,” kata Donny saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (31/12/2025).

Sementara itu, Sherly Annavita melaporkan mobil pribadinya dicoret-coret oleh orang tak dikenal, dan Chiki Fawzi menerima ancaman melalui pesan digital.

Tak hanya pemengaruh, kalangan aktivis juga mengalami hal serupa. Greenpeace Indonesia menyatakan salah satu aktivisnya, Iqbal Damanik, menerima teror berupa kiriman bangkai ayam dan secarik pesan bernada ancaman di kediamannya.

“Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu,” demikian bunyi pesan tersebut, dikutip dari pernyataan Greenpeace Indonesia di akun Instagram resminya.

Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas antara kebebasan berekspresi, kritik kebijakan publik, dan ancaman terhadap keselamatan warga. Di tengah iklim demokrasi yang semakin terbuka, tuntutan akan penegakan hukum yang adil dan transparan pun menjadi semakin mendesak.

Advertisement

Aksi IKN Polda
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Nasional

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Berita Utama

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Nasional

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Didakwa Terima Suap Rp203 Miliar, Modus Pembayaran Jasa Hukum

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version