Advertisement
Catatan sejarah yang keluar dari Prasasti atau manuskrip maka disebut dongeng atau cerita rakyat. Sejarah boleh berinterpretasi tetapi keterhubungan fakta-fakta harus berdasarkan bukti heuristik.
GazanaPublika.com – Tulisan ini berisi kritik atas sejarah yang ditulis di Indonesia, yang penulis nilai banyak narasi sejarah yang berlebihan tanpa bukti yang kuat. Sejarawan cenderung melakukan analisis yang berlebihan dan melebihi fakta yang ada. Mereka sering kali mengaitkan fakta-fakta yang tidak berkorelasi menjadi seolah berhubungan padahal tanpa dasar catatan.
Advertisement
Referensi dalam sejarah harus berdasarkan pada sumber-sumber yang terdapat pada masa yang sama dengan keberadaan seorang tokoh atau fakta sedang diteliti. Namun, para sejarawan sering melangkah terlalu jauh dengan menghubungkan informasi dari berbagai sumber yang belum kelihatan hubungannya atau dari catatan apa.
Contohnya adalah upaya menghubungkan tokoh Dapunta Syailendra yang tercatat dalam Prasasti Sojomerto dengan Dapunta Hyang dari Sumatera, yang menjadi Raja di Sriwijaya. Namun, dasar yang menjelaskan keterkaitan antara kedua tokoh ini masih menjadi pertanyaan.
Bahkan, sejarawan terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan, seperti menyatakan bahwa orang tua Ratu Sima dan Ratu Sima berasal dari Sriwijaya. Begitu pula dengan suami Ratu Sima, Kartikeyasinga, yang dihubungkan dengan Kerajaan Sribuja di Sumatera Selatan. Namun, dasar-dasar dari kesimpulan ini masih harus didukung dengan bukti yang lebih kuat. Kritik ini menyoroti bahwa penulisan sejarah harus didukung oleh referensi yang jelas, bukan hanya sekadar menghasilkan kesimpulan tanpa merujuk pada sumber yang kuat.
Isi Prasasti Sojomerto adalah sebagai berikut:
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa… dari yang mulia Dapunta SelendraSantanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.”
Apakah ada prasasti lain yang menjelaskan selain prasasti yang ada atau sumber apa. Karena kita miskin catatan kadang kita gunakan keterangan dari manuskrip di China namun cerita yang ada melebihi dari catatan yang ada.
IIsi Prasasti Sojomerto adalah sebagai berikut:
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa… dari yang mulia Dapunta Selendra. Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.”
Apakah ada prasasti lain yang memberikan penjelasan tambahan selain yang ada, atau sumber lain yang bisa digunakan? Karena keterbatasan catatan, butuh informasi berasal dari manuskrip luar seperti Manuskrip China, namun faktanya cerita yang tersaji melebihi dari apa yang dicatat.
Ini adalah isi prasasti yang sah dan tidak perlu ditafsirkan bahwa nama Selendra adalah anak Santanu, dan bahwa ibu dan istri bernama Bhadrawati dan Sampula karena prasasti ini berasal dari Jawa, sehingga asumsi bahwa Selendra adalah orang Jawa dan demikianlah isi prasastinya.
Sebagai contoh, dalam hubungan keberadaan Raja Sanjaya, Raja pertama Mataram Hindu, dalam Prasasti Canggal disebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sanna. Dasar yang digunakan adalah dari isi prasasti tersebut. Namun, dari mana keterkaitan Sanna dengan anak dari Rahyang Mandi Minyak, Rajagaluh dan analisa bahwa Rahyang Mandi Minyak, Rajagaluh menikahi Parwati, anak Ratu Sima, tidak jelas dari sumber catatannya? Dari catatan yang menyebutkan bahwa Parwati menikah dengan Rahiyang Mandi Minyak, melahirkan anak laki-laki bernama Sanna dan perempuan bernama Sannaha, perkawinan sedarah atau inces, mungkin ini suatu hal yang memalukan. Lalu lahir anak bernama Sanjaya, dasarnya dari catatan sejarah mana? Dalam prasasti bahwa Sanjaya adalah anak Sanna, ini betul tertulis di Candi Canggal. Lalu apabila Sanna anaknya Rahyang Mandi Minyak dasarnya dari mana?
Sebetulnya sejarah tidak perlu ditafsir karena semua sudah ada di dalam catatan prasasti atau manuskrip sebagaimana Candi Canggal menjelaskan tentang seseorang yang bernama Sanjaya dan hubungannya dengan Sanna yakni orang tuanya tetapi candi tidak menjelaskan hubungan antara Sanna dengan Rahyang Mandi Minyak.
Berikut terjemahan isi Candi Canggal sebagai berikut:
Bait 1: Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung.
Bait 2-6: Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu.
Bait 7: Pulau Jawa yang makmur, kaya akan tambang emas, dan penghasil padi. Di sana dibangun candi Siwa untuk kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari Kunjarakunjadesa.
Bait 8-9: Pulau Jawa sebelumnya diperintah oleh raja Sanna, yang bijaksana, adil, perwira dalam peperangan, dan bermurah hati kepada rakyat. Kematiannya menyebabkan kesedihan dan kehilangan pelindung bagi negara.
Bait 10-11: Putra raja Sanna, bernama Sanjaya, disebutkan sebagai penggantinya yang diibaratkan sebagai matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya, tetapi melalui kakak perempuannya, Sannaha.
Bait 12: Negara sejahtera, aman, dan tenteram. Rakyat hidup bahagia tanpa takut akan kejahatan.
Tentang keberadaan Wreti Kendayun, Raja Galuh pertama, Rahyang Mandi Minyak adalah anaknya Wreti Kendayun dan Sanna, dan Sannaha adalah anaknya Mandi Minyak hanya dijelaskan di dalam Wangsakerta.
Namun, manuskrip ini masih diperdebatkan usianya, terutama karena kontemporer dan jauh dengan zaman tersebut, terutama abad ke-6 Masehi. Wanga Kerta berumur baru sekitar tahun 1900 sebagai dasar untuk menjelaskan keberadaan sejarah yang berabad-abad, tidak rasional dan kehilangan keabsahannya. Cara semacam ini dapat merusak sejarah dengan mengandalkan terlalu banyak tafsir. Terlalu banyak cerita yang diciptakan dan dihubung-hubungkan, mungkin merupakan hasil dari masa kolonial yang terus diwariskan oleh sejarawan berikutnya. Lebih baik memurnikan sejarah berdasarkan pada manuskrip, situs, atau prasasti tanpa tafsir yang berlebihan, kecuali ada bukti yang kuat pada zaman tersebut. Dampaknya adalah munculnya analisis dan klaim bahwa kerajaan Galuh adalah cikal bakal Kerajaan Mataram Kuno karena raja pertamanya adalah Rakai Sanjaya. Namun, pemahaman semacam ini dapat menyebabkan klaim atas kerajaan lain, padahal prasasti menjelaskan bahwa Sanjaya adalah raja Jawa dan tidak perlu ditafsirkan sedangkan bapaknya adalah Sanna dan tidak perlu dihubungkan dihubungkan dengan Rahyang Mandi Minyak, raja kedua Galuh kecuali ada keterangan dari manuskrip yang sezaman. Sejarah itu bukan dongeng tetapi harus bersifat fakta dan heuristik.
Seandainya analisa ini adalah lemah namun konklusi atas tulisan ini bahwa setiap tulisan sejarah itu harus menyertakan kutipan sumbernya, jangan hanya kesimpulannya tetapi harus dengan kutipan sebagaimana kutipan kalimat prasasti di atas.
Penulis:
Binan Zayyada
Pemerhati Politik dan Sejarah
Advertisement
