Advertisement
GazanaPublika.com – Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten dari organisasi Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) secara resmi didirikan pada tanggal 21 Agustus 2023. Momentum berdirinya organisasi ini merujuk pada pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) TTKKBI, H. Tubagus Arif Hidayat, yang menyatakan bahwa TTKKBI telah mengantongi legalitas secara nasional pada tanggal tersebut. Sejak saat itu, Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten menjelma menjadi garda terdepan dalam perjuangan membangkitkan kembali nilai-nilai budaya dan spiritualitas Karuhun—yakni warisan leluhur yang mengakar kuat di bumi Banten.
Kepemimpinan Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten saat ini berada di tangan seorang tokoh yang memiliki latar belakang religius, hukum, sekaligus budaya, yakni H. Hudi Nurhudiyat, S.Ag., SH., M.H.. Beliau mengemban amanah organisasi dengan penuh dedikasi, berpegang pada garis kebijakan Dewan Pimpinan Pusat yang berpijak pada semangat pelestarian budaya nusantara. Di bawah kepemimpinannya, TTKKBI tidak hanya diposisikan sebagai ruang bagi para pendekar aliran Tjimande Tari Kolot yang diwariskan oleh almarhum Abah Tubagus Khaer, tetapi juga sebagai payung besar yang menaungi berbagai aliran pencak silat tradisional lokal yang memiliki nilai, filosofi, dan akar budaya serumpun.
Advertisement
Dalam semangat menyatukan warisan Karuhun Banten, Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten membuka diri untuk merangkul pendekar dari aliran Bandrong, Terumbu, dan Beksi, yang secara historis dan kultural merupakan bagian dari kekayaan bela diri tradisional Banten. Keberagaman ini tidak dipandang sebagai perbedaan yang memecah, melainkan sebagai kekuatan kolektif yang memperkaya khazanah budaya pencak silat Banten. Dalam setiap momentum penting organisasi, slogan TTKKBI senantiasa dikumandangkan sebagai penegas identitas dan pemersatu:

“Satu pertalekan: Cimande. Dalam satu wadah: TTKKBI. TTKKBI: Jaya, jaya, jaya!”
Secara struktural, TTKKBI di Provinsi Banten saat ini mengakomodasi empat aliran utama—yakni Tjimande Tari Kolot, Bandrong, Terumbu, dan Beksi. Perlu dicatat bahwa aliran Beksi memiliki persebaran yang cukup luas, terutama di kawasan Tangerang Raya. Keempat aliran ini tidak hanya memperkaya dinamika organisasi, tetapi juga berperan sebagai kekuatan kultural dan spiritual yang saling melengkapi dalam pengembangan jangka panjang TTKKBI di tanah Banten.
Namun, TTKKBI bukanlah sekadar organisasi pencak silat. Di bawah komando H. Hudi Nurhudiyat, Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten berkomitmen pula untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional, seperti tari Jaipongan dan debus, yang dahulu menjadi denyut utama kebudayaan masyarakat Banten. Sejak tahun 2025, pertunjukan Jaipongan mulai kembali ditampilkan dalam berbagai seremoni resmi organisasi. Kesenian ini sebelumnya nyaris lenyap dari ruang publik di Banten, dan kini kembali hadir berkat inisiatif visioner sang Ketua Wilayah, menjadi ciri khas kegiatan kebudayaan TTKKBI yang membangkitkan semangat dan kesadaran budaya, terutama bagi generasi muda.
Sebagai langkah strategis awal dalam memperkuat fondasi organisasi, Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten memprioritaskan pembentukan struktur organisasi yang menyentuh seluruh lapisan. Program ini dimulai dengan membentuk Dewan Pimpinan II di tingkat kabupaten/kota, Dewan Pimpinan Cabang di tingkat kecamatan, hingga ranting-ranting di tingkat desa dan kelurahan. Tujuan utama dari penguatan struktur ini adalah memastikan bahwa keberadaan organisasi benar-benar ditopang oleh kekuatan akar rumput, yakni padepokan-padepokan dan perguruan-perguruan silat lokal yang tersebar di seluruh penjuru Banten.
Dalam visinya, H. Hudi Nurhudiyat bercita-cita menjadikan Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten sebagai garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya Banten. Visi ini sejalan dengan misi besar Ketua Umum DPP, H. Tubagus Arif Hidayat, yang menempatkan Banten sebagai ikon kebangkitan budaya Nusantara. Keduanya senantiasa menekankan pentingnya membangun silaturahmi yang kuat dan bermakna, baik antar individu maupun antarlembaga dalam struktur organisasi.
Silaturahmi ini diyakini sebagai fondasi yang kokoh untuk mewujudkan kekompakan dalam konsolidasi organisasi dan pelaksanaan program-program kerja yang nyata.
Dalam setiap kesempatan, kedua tokoh ini menekankan bahwa “taleg”—yakni keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai warisan Karuhun—harus ditanamkan dalam setiap pribadi anggota. Taleg bukan hanya slogan, tetapi bentuk integritas budaya dalam diri. Bersamaan dengan itu, sikap ramah tamah, saling menyapa, dan saling menghargai antaranggota organisasi juga ditekankan sebagai modal sosial yang tidak boleh luntur. Nilai-nilai ini menjadi penyangga utama solidaritas yang mengikat seluruh unsur organisasi, dari pusat hingga ke paguron-paguron.
Salah satu fokus penting dari Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten adalah penguatan kaderisasi generasi muda. Melalui kerja-kerja nyata yang dilakukan oleh perguruan di tingkat desa dan kelurahan, organisasi aktif merekrut dan membina anak-anak serta remaja agar mencintai budaya sejak dini. Strategi ini dirancang untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya tidak hanya dijaga oleh generasi tua, tetapi ditanamkan secara ideologis pada generasi penerus yang akan menjadi pewaris sah kebudayaan Banten.
Tentu saja, tantangan yang dihadapi oleh Dewan Pimpinan Wilayah I (DPW I) Provinsi Banten bukanlah hal yang ringan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan kerja-kerja yang strategis dan efektif, serta semangat gotong royong yang terorganisir. Dalam filosofi organisasi, silaturahmi adalah kekuatan: ia menyatukan seperti lidi-lidi kecil yang terikat menjadi sapu, yang kuat karena kebersamaan. Demikian pula organisasi ini akan kuat jika setiap unsur, dari pusat hingga ranting, bergerak seirama dalam satu nafas perjuangan budaya dan spiritualitas warisan leluhur Banten.
Advertisement
