Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Perasaan Suci

Perasaan Suci

Tasawuf Elegan Senin, 23 Desember 2024 1:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Tulisan ini masih merupakan kelanjutan dari edisi sebelumnya mengenai mengenali diri sendiri. Sekali lagi, tulisan ini menekankan bahwa yang paling utama adalah mengenali segala kelemahan dan kekurangan diri sendiri sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, yakni dengan menggali permasalahannya.

Advertisement

Biasanya, permasalahan diri yang terus terpelihara seperti sifat sombong, gila pujian, bangga, riya, pamer, prasangka buruk, benci, merasa diri benar, sok suci, tamak, perhitungan, dan sebagainya, semuanya layak diulas satu per satu. Selain itu, ada pula sifat-sifat manusia lainnya yang turut berpengaruh terhadap kepribadiannya, seperti malas, tergesa-gesa, khawatir, tidak konsisten, merasa hebat, logika yang terlalu mendominasi, dan sebagainya. Semua hal tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap proses penghambaan kepada Allah SWT.

Selanjutnya, yang akan dibahas adalah sifat ‘sok suci’ atau merasa suci dalam diri kita. Biasanya, sifat ini muncul ketika seseorang sudah mulai menekuni ibadah atau kembali kepada jalan yang benar, yang saat ini sering disebut dengan istilah “hijrah.” Di satu sisi, kita mengucapkan alhamdulillah atas mereka yang berhijrah dan juga bagi diri kita jika kita termasuk di dalamnya. Namun, ada hal yang terasa kurang tepat jika hijrah dianggap sebagai level kesucian. Bahkan, istilah “taubat” pun terkadang menjadi asing. Padahal, substansi dari kembali kepada Allah adalah bertaubat, sebab tidak ada shalat hijrah, tetapi shalat taubat memang ada.

Artinya, jika kita adalah orang yang berhijrah, hijrah bukanlah suatu identitas yang melekat sehingga menjadikan seseorang terperangkap dalam dosa baru, yaitu dosa batin ketika kita merasa lebih suci dari orang lain.

Perkara ini sangatlah halus. Ketika kita menasihati orang lain, mungkinkah kita sedang merasa lebih suci dari orang tersebut? Seperti seseorang yang sedang mengkritik orang lain, mungkinkah dalam hatinya dia merasa lebih baik daripada orang yang dikritiknya?

Sebagaimana orang yang berhijrah, apakah dia sedang melihat orang lain berada dalam kegelapan? Jika hal seperti ini muncul dalam diri kita, maka taubatkanlah hijrah tersebut. Sebab, dalam taubat tidak ada perkara kesucian, tetapi ada rasa diri yang jauh dari Allah. Merasa berdosa sehingga kita mengharapkan ampunan-Nya. Sikap taubat adalah sikap merendah, menihilkan diri, dan menetralisir hati dari segala kotoran, termasuk perasaan suci dan merasa lebih baik dari orang lain.

Kadang hati kita tidak merasa demikian, namun sikap dan ucapan kita akan dinilai oleh orang lain. Hal itu tercermin dari ucapan, perilaku, dan gestur yang keluar. Oleh karena itu, taubat adalah sikap waspada agar tidak terperangkap dalam hal-hal seperti ini. Sikap taubat adalah sikap sadar diri, menyadari kekurangan diri, serta usaha menjaga diri dari perilaku hati yang tidak disukai Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Hudi Nurhudiyat: Menguatkan Kearifan Lokal dan Tasawuf

Majelis Al Ma’arijul Wathon Bahas Kekeliruan Kebatinan, Tekankan Integrasi Syariat dan Hakikat

Prabowo Ungkap Alasan Koalisi Gemuk: Indonesia Sebesar Eropa, tapi Hanya Punya Satu Kabinet

KPK Surati Panglima TNI soal Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Korupsi Dana Bencana BNPB

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version