Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Tulisan ini masih merupakan kelanjutan dari edisi sebelumnya mengenai mengenali diri sendiri. Sekali lagi, tulisan ini menekankan bahwa yang paling utama adalah mengenali segala kelemahan dan kekurangan diri sendiri sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, yakni dengan menggali permasalahannya.
Advertisement
Biasanya, permasalahan diri yang terus terpelihara seperti sifat sombong, gila pujian, bangga, riya, pamer, prasangka buruk, benci, merasa diri benar, sok suci, tamak, perhitungan, dan sebagainya, semuanya layak diulas satu per satu. Selain itu, ada pula sifat-sifat manusia lainnya yang turut berpengaruh terhadap kepribadiannya, seperti malas, tergesa-gesa, khawatir, tidak konsisten, merasa hebat, logika yang terlalu mendominasi, dan sebagainya. Semua hal tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap proses penghambaan kepada Allah SWT.
Selanjutnya, yang akan dibahas adalah sifat ‘sok suci’ atau merasa suci dalam diri kita. Biasanya, sifat ini muncul ketika seseorang sudah mulai menekuni ibadah atau kembali kepada jalan yang benar, yang saat ini sering disebut dengan istilah “hijrah.” Di satu sisi, kita mengucapkan alhamdulillah atas mereka yang berhijrah dan juga bagi diri kita jika kita termasuk di dalamnya. Namun, ada hal yang terasa kurang tepat jika hijrah dianggap sebagai level kesucian. Bahkan, istilah “taubat” pun terkadang menjadi asing. Padahal, substansi dari kembali kepada Allah adalah bertaubat, sebab tidak ada shalat hijrah, tetapi shalat taubat memang ada.
Artinya, jika kita adalah orang yang berhijrah, hijrah bukanlah suatu identitas yang melekat sehingga menjadikan seseorang terperangkap dalam dosa baru, yaitu dosa batin ketika kita merasa lebih suci dari orang lain.
Perkara ini sangatlah halus. Ketika kita menasihati orang lain, mungkinkah kita sedang merasa lebih suci dari orang tersebut? Seperti seseorang yang sedang mengkritik orang lain, mungkinkah dalam hatinya dia merasa lebih baik daripada orang yang dikritiknya?
Sebagaimana orang yang berhijrah, apakah dia sedang melihat orang lain berada dalam kegelapan? Jika hal seperti ini muncul dalam diri kita, maka taubatkanlah hijrah tersebut. Sebab, dalam taubat tidak ada perkara kesucian, tetapi ada rasa diri yang jauh dari Allah. Merasa berdosa sehingga kita mengharapkan ampunan-Nya. Sikap taubat adalah sikap merendah, menihilkan diri, dan menetralisir hati dari segala kotoran, termasuk perasaan suci dan merasa lebih baik dari orang lain.
Kadang hati kita tidak merasa demikian, namun sikap dan ucapan kita akan dinilai oleh orang lain. Hal itu tercermin dari ucapan, perilaku, dan gestur yang keluar. Oleh karena itu, taubat adalah sikap waspada agar tidak terperangkap dalam hal-hal seperti ini. Sikap taubat adalah sikap sadar diri, menyadari kekurangan diri, serta usaha menjaga diri dari perilaku hati yang tidak disukai Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.
Advertisement
