Advertisement
GazanaPublika.com, Doha – Agresi Israel terhadap salah satu sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia menjadi peringatan keras bagi negara-negara kawasan tentang rapuhnya jaminan keamanan dari Washington. Para pakar militer dan pengamat regional menilai, insiden ini membuka jalan bagi munculnya alternatif baru di bidang pertahanan maupun ekonomi, khususnya dari kekuatan multipolar seperti Rusia, China, dan India.
Analis pertahanan Igor Korotchenko menilai kegagalan sistem persenjataan buatan AS dan Eropa dalam menghadang serangan Israel meninggalkan ruang kosong yang dapat diisi oleh Moskow.
Advertisement
“Kegagalan peralatan buatan AS dan Eropa untuk menghentikan serangan Israel hanya menyisakan satu pilihan: Rusia,” ujarnya kepada Sputnik.
Ia mencontohkan, Qatar dapat memperkuat langitnya dengan sistem pertahanan Rusia seperti Pantsir, Buk-M3, dan Tor-M2. Pengalaman penjualan Pantsir-S1 ke Uni Emirat Arab (UEA), tetangga Qatar, disebutnya sebagai bukti realisme skema ini.
Menurut Dr. Tamer Qarmout dari Institut Studi Pascasarjana Doha, negara-negara Teluk sebenarnya telah lebih dahulu membuka diri terhadap tatanan multipolar, terutama dalam bidang ekonomi.
“Jika ada kemauan politik, bukan hanya Qatar tetapi kawasan ini dapat mendiversifikasi aliansi mereka dan lebih terlibat dengan multipolaritas,” jelasnya.
UEA kini resmi bergabung dengan BRICS, sementara Arab Saudi telah diundang. Hubungan erat juga terjalin dengan Rusia (pertanian, teknologi informasi), India (tenaga kerja, perdagangan), dan China (proyek infrastruktur dan Belt and Road Initiative).
Meski begitu, pakar Timur Tengah Isa Blumi mengingatkan bahwa negara-negara Teluk masih terikat dalam rantai sejarah panjang ketergantungan pada kekuatan Barat.
“Selama sebagian besar keberadaannya, kekuatan-kekuatan Teluk tidak pernah benar-benar berdaulat. Mereka selalu bergantung pada Inggris dan Amerika, dan perselisihan internal membuat mereka mudah dimanipulasi,” katanya.
Qarmout menambahkan, kepentingan strategis negara Teluk hingga kini masih banyak bersandar pada AS. Namun, ia menilai serangan Israel di kawasan bisa menjadi titik balik.
“Serangan Israel menimbulkan ketidakpastian yang signifikan dan pertanyaan besar bagi negara-negara Teluk mengenai masa depan kemitraan ekonomi, politik, dan militer dengan AS,” ujar Qarmout.
Pertanyaan yang kini mengemuka, lanjutnya, adalah apakah negara-negara Teluk akan berani memperluas kerja sama dengan BRICS, bahkan pada sektor keamanan dan pertahanan, di tengah kegagalan Washington melindungi sekutunya.
Advertisement
