Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Sepenggal Catatan Banten

Sepenggal Catatan Banten

Historika Kamis, 16 Januari 2025 12:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: Abah Yadi (Sejarawan dan budayawan Banten) (dok. Istimewa)

Advertisement

“Kemajuan adalah mustahil tanpa perubahan, dan mereka yang tidak dapat mengubah pikirannya tidak dapat mengubah apa pun.” (George Bernard)

Penulis: Yadi Ahyadi (Abah Yadi)

Advertisement

GazanaPublika.com – Banyak orang meyakini bahwa Wali Songo adalah pihak yang pertama kali membawa Islam ke Tanah Jawa. Pemahaman ini melahirkan anggapan bahwa sebelum kedatangan Wali Songo, Tanah Jawa dan sebagian besar Nusantara belum mengenal Islam, kecuali Pasai dan Ternate, yang telah memeluk agama Islam sejak abad ke-13.

Narasi ini sering kali diungkapkan untuk menjelaskan situasi masyarakat Banten pada masa itu. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa penyebaran Islam di Banten terjadi melalui penaklukan oleh Fatahillah (Faletehan) bersama Sultan Hasanuddin, di mana Banten pada saat itu masih dipimpin oleh Raja Pucuk Umun yang beragama Hindu. Oleh karena itu, sebagian besar beranggapan bahwa Islamisasi baru terjadi setelah Banten yang beragama Hindu berhasil ditaklukan oleh Fatahillah dan Sultan Hasanuddin, yang diutus oleh Kerajaan Demak.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Fatahillah adalah ayah dari Sultan Hasanuddin dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Gelar ‘Fatahillah’ sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti ‘pembuka’ (Fatih), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh penyebar Islam dan para pemimpin kesultanan. Menariknya, gelar ini juga dipakai oleh tokoh-tokoh lain seperti Raden Patah, yang nama ‘Patah’ berasal dari kata ‘Fatah’, dan Sultan Maulana Hasanuddin yang juga memakai gelar Fatih (Fatah) yang kemudian disebut Fatahillah.

Terdapat pandangan yang menyatakan bahwa Sultan Hasanuddin diangkat oleh Demak untuk menaklukkan dan menguasai Banten. Pandangan ini mengarah pada kesimpulan bahwa Sultan Maulana Hasanuddin kemudian dijadikan Adipati di Banten, sebagai bawahan atau perpanjangan tangan Demak. Dari pemikiran ini, berkembanglah logika penaklukan, yang dianggap lebih menarik dan “seksi” bagi sebagian sejarawan, karena memiliki nuansa heroik.

Namun, logika ini berimplikasi pada pandangan bahwa suatu wilayah tidak mungkin dikuasai tanpa peperangan. Selain itu, Raja Pucuk Umun yang memimpin Banten pada masa itu dianggap seorang Hindu, yang mengarah pada asumsi bahwa para bawahannya, termasuk Adipati, kemungkinan besar beragama Hindu. Salah satunya adalah Adipati yang memiliki putri bernama Nyi Kawunganten, yang dianggap sebagai seorang Hindu. Dengan demikian, ketika Sunan Gunung Jati menikahi Nyi Kawunganten, ini diartikan sebagai proses pemelukannya ke dalam Islam. Namun, semua ini pada dasarnya adalah hasil dari interpretasi sejarah yang berbeda-beda.

BACA JUGA:  Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Dari berbagai manuskrip yang kami terima, ada dua poin penting yang perlu diperhatikan. Pertama, Sunan Gunung Jati dan Faletehan (Fatahillah) adalah dua tokoh yang berbeda. Kedua, kedatangan Sultan Hasanuddin bersama ayahnya, Syarif Hidayatullah, bukan untuk melakukan peperangan, melainkan sebagai bagian dari syiar agama yang bertujuan untuk memperkuat ajaran Islam di wilayah tersebut, bukan untuk memaksakan masyarakat Banten memeluk Islam.

Menurut laporan Ma Huwan, seorang juru tulis Laksama Cheng Ho yang hidup sekitar tahun 1371-1430, seluruh wilayah Nusantara pada awal abad ke-15 telah mengalami proses Islamisasi, termasuk Banten, di mana sebagian besar masyarakatnya telah memeluk Islam. Dengan demikian, kedatangan Sunan Gunung Jati ke Tanah Banten bukanlah untuk mengislamkan masyarakat Banten, melainkan lebih kepada memberikan ajaran Islam yang lebih mendalam dan memperkuat keyakinan mereka dalam agama.

Dalam Babad Banten, disebutkan dengan jelas bahwa Sultan Hasanuddin adalah putra hasil pernikahan antara Syarif Hidayatullah dan Nyi Kawunganten. Dalam hal ini, Nyi Kawunganten bukanlah seorang mualaf, karena kedua orang tuanya sudah memeluk agama Islam.

Narasi yang menyebutkan bahwa orang tua Nyi Kawunganten merupakan keturunan dari Adipati Kerajaan Pucuk Umun di Banten tidaklah tepat. Nyi Kawunganten adalah putri dari Pucuk Umun, yang sudah memeluk Islam. Pucuk Umun merujuk pada seorang raja atau pemimpin tertentu dalam struktur masyarakat adat Banten. Dalam konteks ini, Pucuk Umun terbagi menjadi dua kategori:

Pertama, Pucuk Umun yang memegang pemerintahan, yang berpusat di Banten Girang, yang kini terletak di Sempu, Serang. Pucuk Umun ini bernama Surosowan, yang merupakan anak dari Prabu Siliwangi, atau adik dari Surawisesa, Raja Pajajaran yang berada di Bogor.

Kedua, Pucuk Umun yang dikenal sebagai Ajar Domas, seorang pengajar yang berpusat di Gunung Pulosari dan memiliki wilayah yang meliputi: Gunung Pulosari, Banten Karangantu, Gunung Kencana, Lebak Cibeduk, Lebak Kosala, Baduy, Gunung Lor (Cikande), dan Gunung Karang (Serang dan Pandeglang).

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Dengan demikian, ayah dari Nyi Kawunganten adalah Pucuk Umun bernama Surosowan, anak dari Prabu Siliwangi. Pucuk Umun merupakan pemimpin perserikatan para raja di tanah Pasundan, yang telah memeluk agama Islam. Ketika memiliki seorang putri bernama Nyi Kawunganten, ia menikahkannya dengan Syarif Hidayatullah, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Ketika Sultan Maulana Hasanuddin mencapai usia remaja dan dianggap pantas untuk menggantikan ayahnya sebagai raja, ia pun melakukan silaturahmi dengan para guru di wilayah Pucuk Umun, yaitu Ajar Domas. Sultan Maulana Hasanuddin menemui mereka semua, dan para Ajar menilai kemampuan yang dimilikinya.

Setelah itu, mereka memberikan penilaian positif terhadap kecakapan Sultan Maulana Hasanuddin. Sebagai bentuk penghargaan, para Ajar memberinya gelar Saba Kinkin. Dalam Bahasa Sunda Kuno Banten, ‘Saba’ berarti ‘mengunjungi,’ sementara ‘Kinkin’ berarti ‘berdiplomasi.’ Orang Eropa pada masa itu menyebutnya Saba Kingking, dengan ‘King’ yang berarti ‘Raja.’

Dari kisah ini, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Sultan Maulana Hasanuddin ke Banten bukanlah hasil dari proses penaklukan seperti yang sering diinterpretasikan oleh sebagian orang. Sebaliknya, kedatangan beliau lebih didorong oleh garis keturunan yang kuat. Dari pihak ayah, Syarif Hidayatullah, yang merupakan pendiri Kerajaan Cirebon, dan dari pihak ibu, yang merupakan keturunan Surosowan, seorang Pucuk Umun dan putra dari Prabu Siliwangi. Kedudukan Surosowan setara dengan tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Cakrabuana, Kian Santang, dan Surawisesa.

Dengan demikian, naiknya Sultan Maulana Hasanuddin ke tahta kerajaan bukanlah karena pemberontakan atau invasi Demak ke tanah Banten.

Sebagai penutup kami sampaikan bahwa catatan sejarah bisa saja bisa berubah setiap saat apabila ditemukan data atau informasi baru yang bersumber dari prasasti, manuskrip (naskah) kuno dan sebagainya. Oleh karenanya sejarah bukan catatan final dan harus terbuka untuk bersedia menerima dokumen apa pun meskipun dengan konsekuensi harus mengubah catatan yang ada sebelumnya.

Penulis adalah sejarawan dan budayawan Banten.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

BERITA TERBARU

Hudi Nurhudiyat: Menguatkan Kearifan Lokal dan Tasawuf

Majelis Al Ma’arijul Wathon Bahas Kekeliruan Kebatinan, Tekankan Integrasi Syariat dan Hakikat

Prabowo Ungkap Alasan Koalisi Gemuk: Indonesia Sebesar Eropa, tapi Hanya Punya Satu Kabinet

KPK Surati Panglima TNI soal Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Korupsi Dana Bencana BNPB

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version