Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan sebuah rencana perdamaian besar yang digadang-gadang sebagai langkah akhir mengakhiri perang Israel di Gaza. Rencana ini mendapat dukungan langsung dari Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, dan menuai respons beragam dari dunia internasional.
Dalam pengumuman yang dilakukan di Gedung Putih pada Senin (29/9/2025) waktu setempat, Trump menyebut inisiatif tersebut sebagai “hari bersejarah bagi perdamaian”. Ia menegaskan bahwa Israel akan mendapat dukungan penuh dari Washington untuk menyelesaikan misinya menghancurkan Hamas, namun sekaligus membuka jalan bagi gencatan senjata dan proses rekonstruksi Gaza.
Advertisement
“Netanyahu akan mendapat dukungan AS untuk menyelesaikan tugas menghancurkan Hamas,” ujar Trump dalam pidato bersama Netanyahu.
Inti Proposal Trump-Netanyahu
Menurut laporan BBC International dan Al Jazeera, proposal Trump ini mencakup 20 hingga 21 poin utama. Berikut ringkasannya:
• Penghentian operasi militer segera dengan garis pertempuran dibekukan sampai syarat penarikan bertahap terpenuhi.
• Hamas wajib melucuti senjata dalam waktu 72 jam, termasuk menghancurkan terowongan, fasilitas senjata, dan menyerahkan semua sandera—baik hidup maupun jenazah.
• Pertukaran jenazah: setiap jenazah sandera Israel yang diserahkan akan dibalas dengan pembebasan jenazah 15 warga Gaza.
• Bantuan kemanusiaan penuh akan segera masuk ke Gaza setelah proposal disetujui.
• Komite teknokrat Palestina akan memimpin pemerintahan sementara Gaza, diawasi oleh Dewan Perdamaian yang dipimpin langsung oleh Trump.
• Mantan PM Inggris Tony Blair masuk dalam Dewan Perdamaian, bersama sejumlah tokoh internasional lain yang akan diumumkan.
• Fokus pada pembangunan ekonomi Gaza, termasuk rekonstruksi infrastruktur.
• Israel tidak akan menduduki atau mencaplok Gaza, pasukannya mundur secara bertahap.
• Warga Palestina tidak dipaksa keluar dari Gaza, melainkan didorong untuk membangun kembali kehidupan di wilayah itu.
• Hamas tidak boleh terlibat dalam pemerintahan Gaza, baik langsung maupun tidak langsung.
• Proposal membuka jalan menuju pembentukan negara Palestina, yang disusun oleh rakyat Palestina dengan dukungan ahli internasional.
Tony Blair memuji langkah Trump, menyebut rencana ini sebagai “berani dan cerdas”.
Dukungan Dunia Arab dan Indonesia
Rencana Trump ternyata tidak hanya melibatkan Israel dan Palestina. Menurut laporan AFP, delapan negara Arab dan Muslim utama juga menyatakan dukungan. Mereka adalah Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Pakistan, dan Indonesia.
Pernyataan bersama itu dikeluarkan setelah pertemuan antara Trump dengan para pemimpin negara-negara tersebut di sela-sela Sidang Umum PBB ke-80 di New York. Dalam pernyataan itu, mereka “menegaskan kesiapan untuk terlibat secara positif dan konstruktif” demi memastikan tercapainya perjanjian damai Gaza.
Khusus Qatar dan Arab Saudi, keterlibatan mereka sangat penting. Qatar dikenal memainkan peran sebagai mediator kunci dalam konflik Gaza, sementara Arab Saudi disebut akan mengaitkan dukungan pada rencana normalisasi hubungan dengan Israel.
Dua negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dan Pakistan, juga ikut menandatangani dukungan. Indonesia bahkan disebut menawarkan pasukan penjaga perdamaian untuk ditempatkan di Gaza di masa depan. Sedangkan Pakistan dinilai memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki hubungan dengan Washington.
Meski mendapat dukungan sejumlah negara, Hamas hingga kini belum memberikan respons resmi terhadap proposal tersebut. Bagi banyak kalangan, syarat pelucutan senjata Hamas dan penghapusan peran politiknya di Gaza dianggap sebagai poin paling kontroversial.
Pengamat menilai, jika Hamas menolak, maka rencana Trump bisa kembali berakhir seperti upaya-upaya perdamaian sebelumnya yang kandas. Namun, bila diterima, Gaza berpotensi memasuki fase transisi politik yang diawasi komunitas internasional.
Trump sendiri yakin rencananya akan berjalan. “Ini adalah momentum yang menentukan. Gaza bisa beralih dari perang tanpa akhir menuju perdamaian yang nyata,” katanya.
Menatap Ke Depan
Jika berhasil, proposal ini akan membuka jalan baru bagi pembentukan negara Palestina yang selama puluhan tahun menjadi tuntutan utama dunia internasional. Namun, jika gagal, konflik Gaza bisa kembali berkobar dengan dampak kemanusiaan yang lebih besar.
Bagi Indonesia, dukungan terhadap proposal Trump sejalan dengan konsistensi politik luar negeri yang mendukung Palestina. Namun, tawaran mengirim pasukan ke Gaza juga menandai langkah baru yang menunjukkan peran lebih aktif Jakarta dalam percaturan perdamaian global.
Advertisement
