GazanaPublika.com, Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim peluang kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar tiga pekan. Namun, pernyataan itu langsung dibantah Teheran, menandakan situasi masih jauh dari mereda, berikut dikutip dari CNBCIndonesia.com
Di tengah klaim negosiasi, dinamika di lapangan justru menunjukkan arah yang beragam—dari indikasi de-eskalasi hingga eskalasi baru di sejumlah titik.
Klaim Negosiasi, Iran Membantah
Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berlangsung “sangat baik” dan membuka peluang penghentian serangan. Namun pihak Iran menegaskan tidak ada negosiasi seperti yang diklaim Washington.
Sejumlah analis menilai langkah Trump sebagai bentuk “mundur taktis”. Analis keamanan menyebut keputusan menahan serangan terhadap infrastruktur energi Iran dilakukan untuk menghindari balasan besar dari Teheran.
Komunikasi dengan Israel
Usai mengumumkan “gencatan sementara”, Trump langsung berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus tetap menjaga kepentingan strategis Israel di kawasan.
“Presiden Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa dari militer Israel dan militer AS guna mewujudkan tujuan perang dalam sebuah kesepakatan,” ujarnya.
Serangan Masih Berlangsung
Di lapangan, operasi militer belum berhenti. Israel tetap melancarkan serangan ke wilayah yang dianggap sebagai proksi Iran, termasuk menggempur pinggiran selatan Beirut setelah peringatan evakuasi dikeluarkan.
Selain itu, militer Israel juga mengklaim menyerang fasilitas milik Garda Revolusi Iran di Teheran yang digunakan untuk mengoordinasikan pasukan Basij.
Sistem Pertahanan Israel Tertembus
Situasi semakin kompleks setelah sistem pertahanan udara Israel dilaporkan mengalami kebocoran. Sistem David’s Sling gagal mencegat dua rudal balistik Iran yang menghantam wilayah selatan Israel dan melukai puluhan orang.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan baru soal efektivitas pertahanan berlapis yang selama ini menjadi andalan Israel.
Respons Internasional Menguat
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah berbicara dengan Presiden Iran untuk membahas situasi “serius” di kawasan dan menyatakan kesiapan mendorong perdamaian.
Sementara itu, Inggris mengambil langkah tegas dengan memanggil duta besar Iran di London dan mengirim sistem pertahanan udara ke kawasan Teluk. Perdana Menteri Keir Starmer menyebut langkah ini sebagai upaya mengantisipasi ancaman rudal.
Peringatan Dampak Besar
International Committee of the Red Cross memperingatkan konflik telah mendekati “titik tanpa kembali”, terutama jika serangan terhadap infrastruktur vital terus berlanjut.
“Apa yang kita saksikan dalam beberapa hari terakhir di Timur Tengah berisiko mencapai titik tanpa kembali,” kata Presiden ICRC.
Dampak Ekonomi dan Energi
Blokade Iran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi global. Kepala ADNOC Sultan Ahmed Al Jaber menyebut tindakan tersebut sebagai “terorisme ekonomi”.
Di sisi lain, Menteri Energi AS menyatakan gangguan pasar minyak bersifat sementara, meski volatilitas masih tinggi.
Arah Konflik: Mereda atau Meledak?
Pernyataan Trump tentang peluang damai di satu sisi, dan intensitas serangan di sisi lain, menunjukkan konflik ini berada di titik krusial: antara menuju de-eskalasi atau justru meluas.
Di tengah tarik-menarik kepentingan militer, politik, dan ekonomi global, satu hal menjadi jelas—perang ini belum benar-benar berakhir, dan dunia masih menunggu apakah “jalur diplomasi” akan benar-benar menang atas logika eskalasi. ***
