Advertisement
Subang, GazanaPublika.com – Mantan politikus Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP), Maruarar Sirait, menyampaikan kebosanannya menjadi petugas partai dan memilih dukungan kepada pasangan nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dengan tulus dari hati nuraninya. Ungkapan ini dia sampaikan pada kampanye akbar di Subang pada Sabtu (27/1/2024).
Dalam orasinya, Maruarar Sirait dengan tegas menyatakan bahwa dukungannya terhadap Prabowo-Gibran bukan atas perintah Jokowi, melainkan murni karena keyakinannya sendiri. Ia menegaskan bahwa ia tidak ingin menjadi petugas partai, melainkan lebih memilih menjadi petugas rakyat yang mengikuti hati nuraninya.
Advertisement
“Jadi saudara-saudara, saya yakin, Pak Jokowi tidak pernah nyuruh saya dukung Prabowo. Betul? Tapi saya mendukung dari hati. Saya tidak mau menjadi petugas partai, saya mau menjadi petugas rakyat yang mengikuti hati saya,” ucap Maruarar Sirait dengan lugas di hadapan pendukung Prabowo-Gibran.
Ara, sapaan akrabnya, juga menargetkan kemenangan Prabowo-Gibran di basis PDIP di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Target ini diumumkan saat kampanye bersama Prabowo di Lapangan Desa Rawalele, Kabupaten Subang. Pernyataan terbuka Maruarar Sirait ini menjadi sorotan, menggambarkan keinginannya untuk memberikan dukungan yang tulus dan merdeka dari beban petugas partai yang selama ini dia rasakan.
Ara Tidak Mau Disebut Petugas Partai
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, membuka suara terkait cara menggilannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ganjar Pranowo sebagai “petugas partai”. Diketahui, Megawati selalu menggunakan istilah tersebut di berbagai kesempatan.
Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-IV PDIP, Megawati menjelaskan bahwa panggilan “petugas partai” sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Bahkan, saat mendeklarasikan Ganjar sebagai bakal calon presiden PDIP pada 21 April 2023, Megawati menyebut Ganjar sebagai kader dan petugas partai yang tugasnya ditingkatkan menjadi bakal calon RI-1.
“Saya sampai bungung, kok saya bilang Pak Jokowi petugas partai, kader, kok saya diomongkan terlalu sombong. Itu adalah AD/ART di partai kita. Saya pun petugas partai lho, ditugasi kongres partai, dipilih oleh kalian untuk bertanggung jawab sebagai ketua umum. Saya pun kader,” ungkap Megawati dalam pidato penutupan Rakernas, seperti yang dilansir dari YouTube Kompas TV.
Megawati menegaskan bahwa menjadi Ketua Umum PDIP adalah mekanisme yang diatur oleh aturan partai. Oleh karena itu, orang dari luar PDIP tidak mungkin tiba-tiba menjadi Ketua Umum.
“Tak mungkin orang lain itu tiba-tiba jadi ketua umum, karena terus siapa yang mau milih? Kalau tiba-tiba orang luar yang mau dipilih, itu melanggar AD/ART,” tambahnya.
Megawati juga menyayangkan bahwa seringkali penjelasan tersebut tidak diberi kesempatan untuk disampaikan dengan baik kepada publik. Dia berharap agar masyarakat dapat memahami mekanisme internal partai yang mengatur kedudukan dan peran setiap kader, termasuk dirinya sebagai Ketua Umum PDIP. (Sumber: Tribunnews.com)
Advertisement
