GazanaPublika.com, London — Gelombang protes terkait isu imigrasi kembali mengguncang Inggris akhir pekan ini. Ribuan demonstran turun ke jalan di sejumlah kota besar, termasuk London, Manchester, dan Birmingham, menyoroti kebijakan pemerintah yang dianggap gagal mengendalikan arus migran sekaligus memicu ketegangan sosial.
Di ibu kota London, massa yang terdiri dari kelompok pro-imigran dan anti-imigran sempat terlibat adu mulut hingga bentrok kecil dengan aparat kepolisian yang menjaga jalannya aksi. Polisi Metropolitan melaporkan sedikitnya 27 orang ditangkap akibat insiden kekerasan dan pelanggaran ketertiban umum.
Aksi ini dipicu oleh perdebatan panas seputar kebijakan baru pemerintah Inggris yang memperketat izin tinggal bagi pencari suaka serta meningkatkan deportasi migran ilegal. Perdana Menteri Inggris, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga ‘keamanan nasional dan integrasi sosial.’ Namun, kelompok pegiat HAM menilai kebijakan tersebut diskriminatif dan melanggar prinsip kemanusiaan.
“Pemerintah seolah menjadikan para migran kambing hitam atas krisis ekonomi dan perumahan yang sebenarnya bersumber dari kegagalan kebijakan jangka panjang,” ujar Sarah Malik, juru bicara LSM Refugees Welcome UK.
Sementara itu, kelompok sayap kanan yang tergabung dalam ‘Britain First” mendesak pemerintah lebih tegas. “Kami lelah melihat Inggris dibanjiri orang asing tanpa ada batas jelas. Identitas nasional harus dilindungi,” kata pemimpinnya, Paul Golding, dalam orasinya.
Pengamat politik menilai, isu imigrasi berpotensi menjadi faktor penentu dalam pemilu mendatang. “Imigrasi selalu menjadi isu sensitif di Inggris, terutama pasca-Brexit. Retorika politik yang keras bisa memperdalam polarisasi masyarakat,” kata Profesor Alan Wright dari University of Oxford.
Dengan tensi politik yang terus meningkat, situasi ini diperkirakan masih akan memanas dalam beberapa bulan ke depan, seiring pembahasan rancangan undang-undang imigrasi yang akan segera digelar di parlemen.
